Tips Agar Sprint Retrospective Kita Lebih Menyenangkan

Entertainment13 Jun 20226 Minutes
sprint retrospective

Pada artikel sebelumnya astronaut semua tentu sadar bahwa kerangka kerja scrum memiliki beberapa event di dalamnya. Event tersebut meliputi sprint planning, daily standup, sprint review, dan sprint retrospective. Di mana sprint retrospective sendiri adalah event scrum yang perlu kita adakan untuk mengevaluasi proses dan kinerja tim selama menjalankan sprint. Tujuan utamanya tentu saja adalah untuk membuat langkah perbaikan secara terus menerus.

 

Apa Yang Kita Lakukan Dalam Sprint Retrospective?

 

Jika kita artikan dalam Bahasa Indonesia, maka retrospective / retrospeksi adalah tentang meninjau atau melihat kembali apa yang telah berlalu. Jadi secara sederhana kita dapat memahami sprint retrospective sebagai tinjauan atas apa yang sudah terjadi / kita lakukan pada sprint sebelumnya. Lewat tinjauan inilah kemudian kita dapat mengharapkan pembelajaran berharga yang bisa kita implementasikan pada sprint berikutnya.

Terdapat tiga pertanyaan kunci yang perlu kita jawab bersama pada saat melakukan sprint retrospective. Di mana jawaban atas tiga pertanyaan ini akan mengarahkan kita pada hasil pembelajaran yang kita cari. Berikut ini adalah tiga pertanyaan kunci tersebut:

  • Hal baik apa yang telah terjadi pada sprint sebelumnya?
  • Kegiatan apa yang masih kurang / belum cukup baik prosesnya?
  • Apa yang perlu kita perbaiki untuk sprint kita berikutnya?

Masih banyak orang yang beranggapan bahwa pertanyaan ini dapat kita selesaikan pada saat sprint review. Sehingga mereka beranggapan bahwa sprint retrospective tidak perlu untuk kita laksanakan. Hal ini cukup keliru keduanya adalah hal yang berbeda dan sama-sama pentingnya untuk tim.

Sprint retrospective adalah event scrum yang perlu kita adakan untuk mengevaluasi proses dan kinerja tim selama menjalankan sprint.

unsplash.com

 

Perbedaan Antara Sprint Retrospective Dan Sprint Review

 

Kedua event scrum ini memang sama-sama berisi kegiatan evaluasi atau peninjauan. Meskipun begitu, tetap saja keduanya adalah event yang berbeda. Sprint review merupakan kegiatan evaluasi yang kita lakukan atas sprint goal / produk. Di dalamnya, kita akan melihat kembali apakah aktivitas yang kita lakukan sudah selaras dengan tujuan atau belum. Sementara sprint retrospective akan terfokus pada proses dan orang-orang di dalam aktivitas itu.

Output dari kedua sprint ini pun juga relatif berbeda. Sprint review akan menghasilkan output berupa perencanaan ulang backlog & skala prioritas. Sementara output dari sprint retrospective adalah skema atau langkah-langkah perbaikan kinerja tim pada sprint berikutnya. Jadi, kedua sprint ini adalah hal yang berbeda dan sama-sama memiliki peran penting dalam proses kita menjalankan kerangka kerja scrum.

Sprint retrospective adalah event scrum yang perlu kita adakan untuk mengevaluasi proses dan kinerja tim selama menjalankan sprint.

unsplash.com

 

Tiga Sprint Retrospective Yang Perlu Kita Hindari Dan Solusinya

 

Tujuan dari sesi sprint retrospective adalah bagaimana kita dapat meninjau ulang hal-hal baik maupun buruk yang telah terjadi pada sprint sebelumnya. Tentunya tinjauan ini akan kita respon sebagai bentuk perbaikan pada sprint-sprint berikutnya. Hanya saja seringkali momentum ini justru dilakukan sebagai rutinitas semata saja, baik dari perspektif scrum master maupun anggota tim scrum lainnya. Di sini kita akan melihat tiga contoh sesi sprint retrospective yang sebaiknya kita hindari. Kita pun juga akan melihat apa saja yang dapat kita lakukan untuk menghindarinya. Dengan begitu, sprint retrospective pun dapat menjadi lebih berkesan dan bermakana bagi seluruh anggota tim scrum.

 

Pertama, Jangan Sampai Sprint Retrospective Jadi Ajang Curhat Dan Gosip

 

Suatu perusahaan terbiasa melakukan sesi retrospective dengan rutin. Di mana semua anggota tim scrum akan berkumpul dan dapat menceritakan beragam pikiran maupun perasaan mereka selam sesi ini. Lantas, apa yang mungkin terjadi? Sebagian besar isi pembicaraan hanya menjadi sesi curhat bagi mereka. Memang baik di mana semua anggota tim dapat menceritakan perasaan mereka selama sprint. Namun yang perlu kita sayangkan bahwa tidak ada pembahasan terkait tindak lanjut atas curhat tersebut.

Masalah di dalam tim memang sudah tersampaikan, namun tidak ada bahasan terkait solusinya. Momen di mana sprint retrospective menjadi tempat curhat semata dapat membuat anggota tim lainnya malas mengikuti sesi ini. Alasan utamanya tentu saja adalah merasa percuma mengikuti sesi ini jika tidak ada bahasan yang sifatnya solutif. Di sinilah peran scrum master menjadi penting. Di mana dia perlu mencatat poin-poin masalah di dalam tim dan menyusun skema langkah-langkah solutif yang merespon berbagai masalah di dalam tim. Masukkan juga skema tersebut ke dalam backlog agar kemudian seluruh tim menyadarinya. Kesadaran atas langkah-langkah perbaikan inilah yang kemudian akan memotivasi seluruh tim untuk bekerja dengan lebih baik pada sprint berikutnya.

 

Kedua, Jangan Sampai Sprint Retrospective Jadi Membosankan

 

Suatu perusahaan selalu menjalankan sprint retrospective dalam format atau alur yang sama. Tujuannya agar konsistensi terbentuk dalam proses kerja tim scrum. Namun sayangnya adalah seluruh tim kemudian mulai merasa bosan atau jenuh. Tentunya hal ini akan sangat merugikan karena rasa bosan dapat membuat anggota tim kehilangan antusiasme dalam mengikuti sesi ini. Di mana seharusnya sprint retrospective adalah sesi yang menyenangkan dan dinantikan oleh seluruh anggota tim scrum. Agar kita terhindar dari situasi seperti ini, scrum master perlu menerapkan beberapa variasi format atau alur berjalannya sprint retrospective. Misalnya seperti analogi, liberating structure, hingga future retro.

Pada metode analogi, kita menggunakan mobil balap yang sedang tidak dapat melaju kencang karena terdapat parasut yang menghalanginya. Scrum master pun kemudian mengibaratkan kondisi-kondisi di dalam tim dengan situasi mobil balap tersebut. Seperti roda dan mesin adalah hal-hal yang membuat kita berkembang selama sprint, parasut sebagai hambatan atau masalah, dan pit stop menjadi hal-hal yang perlu kita eksplorasi atau kembangkan. Untuk liberating structure, akan ada 30 menu yang menjadi wadah kreativitas tim dalam menghidupkan suasana sprint retrospective. Kreativitas dan inovasi pun dapat terpanting lewa metode ini. Sementara future retro akan membawa seluruh anggota tim untuk membayangkan bagaimana masa depan mereka saat menghadapi beragam masalah yang relevan.

 

Ketiga, Hindari Toxic Positivity Dalam Sprint Retrospective

 

Suatu perusahaan sedang menjalankan sprint retrospective di bawah arahan scrum master. Di mana scrum master menggunakan format yang cukup menyenangkan. Scrum master pun menyajikan beberapa hiburan dan permainan yang harapannya dapat membuat suasana lebih cair dan penuh semangat. Hanya saja situasi tim saat itu sedang terpuruk karena beragam kegagalan dalam sprint sebelumnya. Kegagalan tersebut dapat berupa tidak lancarnya proses peluncuran produk, atau mungkin bisa saja produk yang tim kerjakan tidak berhasil.

Memang scrum master memiliki niat baik untuk memantik kembali semangat tim agar tidak terlalu terpuruk. Namun permainan dan hiburan dari scrum master justru membuat tim kehilangan simpati dan merasakan adanya toxic positivity dari scrum master. Agar hal seperti ini tidak terjadi, scrum master perlu lebih peka terhadap situasi dan kondisi tim. Di mana format sprint retrospective perlu menyesuaikan dengan perasaan anggota tim scrum lainnya. Pemilihan format yang tepat menunjukkan bahwa scrum master menyadari kondisi tim dan menghargainya. Pahami kondisi dan suasana kerja tim dan responlah dengan metode atau format yang relevan.

Sprint retrospective adalah event scrum yang perlu kita adakan untuk mengevaluasi proses dan kinerja tim selama menjalankan sprint.

unsplash.com

 

Penutup

 

Begitulah tiga tips agar sprint retrospective kita dapat menjadi lebih menyenangkan. Intinya adalah kita perlu saling memahami bagaimana kondisi anggota tim, berempatilah pada masalah yang ada, respon dengan metode yang relevan, dan selalu catat daftar solusi atas masalah-masalah di dalam tim kita. Semoga artikel ini memiliki manfaat untuk kalian yang membacanya. Untuk info-info lainnya seputar industri IT, dapat langsung kalian akses di @roketinapp.

Other Insights
Share This Story: