Mengenal Model Bisnis dan Metode Operasi dalam E-commerce

Startup7 Sep 20226 Minutes
e-commerce

E-commerce saat ini telah menjelma menjadi sebuah entitas wahana jual beli yang tidak hanya didasarkan pada tren, melainkan kebutuhan atas gaya hidup masyarakat. Hal ini didukung pula oleh situasi pandemi Covid-19 yang sempat melanda beberapa saat lalu. Situasi ini menjadikan E-commerce sebagai salah satu wadah bisnis yang potensial untuk ditekuni karena memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Namun, sebelum itu, penting juga untuk mempelajari lagi mengenai bisnis E-commerce yang akan dikembangkan supaya bisnis dapat berjalan lancar. Beberapa hal yang perlu diketahui tersebut antara lain tentang model bisnis dan metode operasi bisnis E-commerce.

 

Model bisnis adalah gambaran mengenai bagaimana bisnis Anda akan dilakukan. Pada bisnis E-commerce sendiri, terdapat beberapa model bisnis antara lain:

 

 

B2B (Business to business)

Sesuai dengan namanya, model bisnis ini menjual produk atau jasanya pada badan usaha lainnya. Nantinya, badan usaha yang bertindak sebagai konsumen memiliki kuasa penuh atas produk atau jasa yang telah dibeli. Dalam bisnis E-commerce, cukup banyak produk atau layanan yang ditawarkan model bisnis ini seperti web hosting, software, hingga pengadaan barang dan jasa lewat website. Model bisnis ini memang cukup berat untuk dilakukan, namun tingkat penjualan dan loyalitas dapat dibilang cukup tinggi. Contoh E-commerce pada model bisnis ini adalah Mbiz.

 

B2C (Business to consumer)

Model bisnis ini sangat umum ditemui di masyarakat karena model ini dapat menyentuh masyarakat sebagai konsumen secara langsung seperti pada Blibli. Pada model bisnis ini, badan usaha dapat menjual produk atau jasa mereka kepada konsumen secara langsung. Pada dasarnya, model ini sama dengan model toko tradisional namun menggunakan website dalam prakteknya. Namun, kemudahan ini juga mengundang kelemahan lain yaitu tingginya tingkat persaingan yang menyebabkan rendahnya loyalitas konsumen. Karena itu, sangat penting untuk dapat terus menjaga kepercayaan pelanggan pada model bisnis ini.

 

C2C (Consumer to consumer)

Ciri utama dari model bisnis ini adalah konsumen juga dapat melakukan transaksi dengan konsumen lainnya. Biasanya para pelaku bisnis tipe ini menggunakan marketplace seperti OLX sebagai sarana untuk mempertemukan mereka dengan calon pembeli. Model bisnis ini banyak disukai oleh para pebisnis yang masih kekurangan modal untuk membuat layanan E-commerce mereka sendiri karena lebih murah dan prosesnya cepat, walaupun ada kekurangan seperti persaingan harga yang ketat hingga kesulitan dalam mengontrol kualitas produk.

 

C2B (Consumer to business)

Pada model bisnis ini, konsumen atau individu-lah yang menyediakan produk atau jasa kepada badan usaha. Apabila dibandingkan dengan produk, jenis jasa seperti pekerja freelance lebih banyak ditawarkan pada model bisnis ini. Salah satu E-commerce yang menyediakan jasa pekerja freelancer adalah Upwork.

 

 

Selain model bisnis, perlu diketahui pula untuk metode operasi pada bisnis yang akan dilakukan. Metode operasi adalah cara Anda dalam mengurus inventaris dan sumber daya produk yang anda miliki, termasuk juga pada cara Anda terhubung dengan pelanggan, jenis transaksi, dan pengiriman produk atau jasa Anda pada pelanggan. Berikut ini terdapat beberapa metode operasi dalam bisnis E-commerce:

 

Shipping

Metode ini memungkinkan Anda untuk memproduksi sendiri produk yang akan anda jual sebelum dijual melalui website maupun marketplace. Keunggulan terpenting dalam metode ini adalah Anda dapat memastikan sendiri kualitas barang mulai dari awal produksi hingga sebelum pengiriman karena Anda memiliki kontrol penuh atas bisnis Anda, walaupun dalam prakteknya akan membutuhkan modal lebih banyak daripada metode lain.

 

Dropshipping

Metode ini sangatlah sederhana. Anda dapat berjualan tanpa perlu menyediakan barang maupun inventaris lainnya karena sudah ada supplier yang siap mengurusnya untuk Anda. Konsumen nantinya akan memesan lewat toko Anda, sebelum Anda menyampaikan pesanan konsumen pada supplier yang bekerja dengan Anda. Setelah itu, supplier akan mengirimkannya pada pelanggan. Sangat mudah dan tidak butuh modal besar. Namun, di sisi lain, Anda jadi tidak dapat memastikan terlebih dulu tentang stok dan kualitas barang. Karena itu, penting untuk dapat memilih supplier sebagai rekan bisnis yang dapat dipercaya.

 

Direct to Consumer

Metode Direct to Consumer adalah metode di mana suatu badan usaha melakukan proses mandiri terhadap produksi dan distribusi produk. Nantinya, produk dijual lewat website maupun E-commerce milik badan usaha tersebut. Anda mungkin membutuhkan modal yang lebih banyak di awal mulai dari produksi hingga pemasaran. Namun, Anda bisa mendapatkan pemasukan secara utuh tanpa potongan marketplace dan memudahkan Anda untuk mengenali konsumen Anda menggunakan data analytics yang tersedia dari aktivitas para pelanggan E-commerce Anda.

 

Wholesale

Metode ini bisa dikatakan juga grosir. Anda akan terlebih dulu membeli barang dagangan dalam jumlah besar, sebelum dijual kembali sebagai barang satuan dengan harga yang lebih rendah. Walaupun mirip dengan metode dropshipping, Anda dapat menentukan harga jual yang lebih kompetitif karena telah membeli dalam jumlah besar, namun pastikan untuk tetap mendapatkan margin yang dapat menutupi biaya pembelian Anda di awal. Selain itu, siapkan juga dana yang cukup besar di awal dan tempat untuk menyimpan barang-barang yang Anda beli sebelum dipasarkan kembali.

 

White Label

White Label adalah metode yang memungkinkan Anda untuk melakukan kerja sama dengan produsen yang nantinya akan memberikan barang untuk Anda jual. Sebelum dijual, Anda dapat mendesain sendiri kemasan dan brand dari produk tersebut sesuai keinginan Anda. Metode ini mengharuskan Anda untuk pintar dalam memilih jenis dan produk yang akan Anda pasarkan, juga perusahaan yang akan bekerjasama dengan Anda. Selain itu, bisa jadi produk yang akan Anda pasarkan memiliki persamaan dengan produk lain di pasaran karena berasal dari produsen yang sama, sehingga Anda perlu memiliki branding yang berbeda dan unik untuk lebih menonjolkan produk Anda daripada saingan pasar Anda.

 

Private Label

Private Label memiliki kemiripan dengan White Label. Namun, pada metode ini, Anda tidak hanya sekedar memasarkan produk dengan brand Anda sendiri, melainkan Anda telah membuat kontrak dengan produsen untuk membuat produk sesuai dengan keinginan Anda. Nantinya, produsen akan memproduksi produk sesuai keinginan Anda, sebelum nantinya dipasarkan dengan brand milik Anda. Metode bisnis ini cocok bagi Anda yang sudah memiliki gambaran untuk produk dan brand Anda, namun tidak memiliki modal yang cukup besar.

 

Subscription

Saat ini sangat marak layanan digital yang menggunakan metode ini. Metode bisnis ini membuat konsumen membayar biaya langganan untuk barang maupun jasa untuk suatu periode waktu tertentu mulai dari harian hingga tahunan. Kenyamanan pembayaran dan akses menjadi salah satu kelebihdan dari metode ini bagi para pelanggan. Namun, sistem berlangganan ini memiliki persaingan pasar dan resiko kehilangan pelanggan yang sangat ketat.

 

Kesimpulan

E-commerce saat ini memiliki potensi bisnis yang sangat besar mengingat posisinya kini yang tidak hanya sebagai tren sesaat, melainkan kebutuhan atas gaya hidup masyarakat. Karena itu, banyak pelaku bisnis yang berbondong-bondong membuat E-commerce maupun memasarkan produknya secara lain lewat marketplace. Namun, alangkah baiknya apabila para pelaku usaha dapat mengenal model bisnis dan metode operasi yang akan digunakan sebelum mulai melakukan bisnisnya lebih jauh. Hal ini agar setiap pelaku usaha dapat meraih hasil yang baik dalam memasarkan produk mereka nantinya.

 

Ingin membaca informasi menarik seputar dunia IT lainnya? Kunjungi Roketin.com sekarang juga!

Other Insights
Share This Story: