Mengenal Agile Workflow dan Implementasinya dalam Proyek

Technology26 Jul 20235 Minutes
Agile

Tidak dapat dipungkiri bahwa di era modern ini, bisnis selalu berjalan dinamis dengan kecepatan yang melebihi era-era sebelumnya, terutama karena keberadaan internet yang membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dijangkau dan memaksa bisnis untuk terus beradaptasi dengan setiap dinamika yang terjadi di dalamnya. Karena itu, banyak bisnis yang mulai terjun ke ranah digital, baik dengan membuat website, E-commerce, maupun aplikasi milik sendiri. 

 

Kebutuhan bisnis untuk terus beradaptasi tersebut membuat pendekatan agile semakin sering digunakan dalam suatu manajemen proyek digital. Agile sendiri dianggap lebih cocok digunakan karena ia memungkinkan pelaku bisnis selaku klien atau user untuk terlibat lebih banyak dalam pengembangan proyek, membuat tiap kebutuhan dapat ditampung dan dilibatkan dalam proyek yang sedang berjalan dengan lebih cepat dan secara terus-menerus. Hal ini tentunya berbeda dengan pendekatan tradisional yang mengharuskan klien untuk menunggu hingga produk selesai dibuat dalam jangka waktu yang telah disepakati, sebelum klien dapat memberikan feedback atas produk.

 

 

Apa itu agile workflow?

Pendekatan agile pada manajemen proyek memiliki alur kerjanya sendiri yang disebut dengan agile workflow, sebuah pengelolaan dan penyelesaian proyek yang menekankan pada fleksibilitas, kolaborasi, dan peningkatan kualitas produk secara berkelanjutan. Agile workflow sendiri dapat didefinisikan sebagai tanggapan atau upaya untuk melawan kekakuan manajemen proyek tradisional dengan memungkinkan klien sebagai user yang nantinya dapat memberikan feedback di tiap sprint. 

 

Sprint sendiri merupakan tahapan kerja dalam manajemen proyek agile di mana pada tiap sprint, developer harus menyelesaikan tugas kecil yang nantinya akan mengantarkan produk ke tahap-tahap yang lebih besar. Adapun, ketika user dapat memberikan feedback di tiap sprint, maka tiap perubahan yang terjadi dalam bisnis, baik besar maupun kecil, dapat direspons dan diimplementasikan dengan lebih cepat, sehingga sangat membantu meningkatkan efisiensi dalam pengembangan produk. 

 

Selain itu, metode ini juga memungkinkan developer untuk menemukan masalah pada produk dengan lebih cepat dan menyelesaikannya pada saat itu juga. Pada akhirnya, proses pengembangan akan menjadi lebih efisien dan produk yang dihasilkan juga akan sesuai dengan kebutuhan bisnis  klien.

 

 

Bagaimana cara mengimplementasikannya?

Terdapat beberapa elemen kunci yang harus dipahami ketika hendak mengaplikasikan agile workflow dalam suatu manajemen proyek. Elemen pertama adalah pemahaman akan agile manifesto dan prinsip-prinsip agile mulai dari prinsip atas pelanggan, kualitas produk, kerja sama, dan manajemen proyek. Setelah itu, pengembangan dapat dimulai dari product backlog yang memuat seluruh tugas dan ide yang akan dilibatkan dalam proses pengembangan produk nantinya. Adapun, item pada backlog nantinya harus dijelaskan dengan baik, diatur sesuai prioritas, dan dapat dijalankan dalam tepat waktu. 

 

Selanjutnya, hal-hal yang telah tertera dalam backlog item dapat segera dijalankan dalam sprint yang menjadi elemen kunci berikutnya. Tiap sprint harus memiliki target yang jelas dan harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Nantinya, tiap tugas yang telah dikerjakan dalam sprint akan mendapatkan feedback dari klien lewat elemen penting selanjutnya, yaitu agile meetings. Terdapat dua jenis agile meeting. Jenis pertama adalah daily standups atau pertemuan harian untuk membahas tentang apa yang terjadi dalam sprint hari ini dan bantuan apa yang diperlukan bersama anggota tim. Sementara itu, jenis agile meeting yang kedua ialah sprint retrospectives yang diselenggarakan setelah sprint selesai dan membahas tentang kemajuan, hambatan, dan apa saja yang harus dilakukan atau ditambahkan dalam proses pengembangan produk. 

 

Pada umumnya, agile worklog sendiri dapat dilakukan pada berbagai macam framework kerja agile seperti scrum, kanban, crystal, dan berbagai macam framework lainnya. Namun, agile workflow juga memiliki lifecycle yang umum diterapkan dalam berbagai proyek berbasis agile. Beberapa tahap dalam lifecycle tersebut ialah:

 

Conception

Tahap pertama adalah conception. Pada tahap ini, product owner akan memformulasikan project scope dan target yang harus dicapai. Untuk itu, product owner akan berdiskusi secara mendetail dengan klien untuk menggali informasi yang nantinya akan menjadi informasi kunci sekaligus outline proyek. Informasi ini tidak harus selalu dilengkapi di awal proyek, melainkan dapat ditambahkan juga seiring berjalannya waktu. Selain itu, hal penting lainnya adalah memerhatikan waktu dan budget yang sesuai estimasi proyek. Setiap analisis detail ini akan membantu anggota tim untuk menentukan apakah proyek bisa dijalankan atau tidak.

 

Inception

Ketika tim telah memiliki gambaran tentang konsep proyek, sekaranglah saatnya tim developer untuk mulai membangun produk. Anggota tim sendiri dapat dipilih oleh product owner beserta tools dan sumber daya lain yang diperlukan. Pada tahap ini, para stakeholder akan menjelaskan lebih lanjut tentang ketentuan, fungsionalitas, dan hasil yang diharapkan. Hal ini dilakukan secara berkala untuk tetap menyesuaikan pada tahapan pengembangan produk dan tiap perubahan dapat diimplementasikan secara cepat.  

 

Iteration

Tahap ini adalah tahapan terpanjang dibandingkan yang lain. Tim pengembangan akan bekerja bersama tim UI/UX dan mengombinasikan tiap ketentuan produk dan feedback ke dalam desain. Pada akhir sprint pertama nanti, produk diharuskan untuk memiliki fungsi minimum yang dapat dijalankan, di mana fitur lain akan ditambahkan pada sprint berikutnya. Tahap ini menjadi landasan dari proses agile workflow, di mana ia membantu developer untuk merancang produk dengan cepat dan membuat perubahan untuk memuaskan klien.

 

Release

Pada tahap ini, produk sudah hampir siap. Ini menjadi momen krusial lainnya di mana tim quality assurance mulai menjalankan tes terhadap produk untuk menemukan error, bug, dan masalah lain yang mungkin dapat menghambat kinerja atau fungsionalitas produk. Nantinya, jika ditemukan masalah, mereka akan segera menghubungi developer untuk memperbaikinya. Selain itu, penyediaan dokumentasi penting untuk dilakukan sebagai bahan evaluasi untuk proyek yang akan datang.

 

Production

Tahap ini dapat disebut juga sebagai tahap maintenance, di mana produk yang telah dikembangkan seutuhnya akhirnya tersedia untuk pelanggan. Tim developer sendiri akan memberikan dukungan tambahan agar produk tetap dapat berjalan secara optimal sekaligus mengatasi bug baru yang mungkin muncul pada produk saat digunakan. Pada tahap ini dapat dikembangkan pula berbagai pembaruan pada produk. 

 

Retirement

Produk akan masuk ke tahap retirement ketika ia digantikan oleh produk baru atau ketika produk tidak lagi kompatibel mengikuti perkembangan waktu. Tim developer dan pelanggan akan diberitahu mengenai informasi ini. Pelanggan akan diarahkan untuk bermigrasi pada sistem baru sementara tim developer akan mengurus aktivitas untuk mengakhiri kerja dari produk tersebut.

 

Kesimpulan

Kebutuhan dunia bisnis yang dinamis membuat berbagai proyek digital saat ini lebih cocok dikerjakan menggunakan manajemen proyek berbasis agile. Untuk itu, diperlukan agile workflow yang dapat membantu tim developer untuk menciptakan produk sesuai kebutuhan dari klien secara cepat, fleksibel, dan adaptif. Adapun, agar agile workflow dapat berjalan, tim developer perlu memahami terlebih dulu tentang elemen kunci pada agile workflow yaitu prinsip agile, product backlog, sprint, dan agile meeting. Pada umumnya, agile workflow sendiri juga dibagi ke dalam enam tahap mulai dari conception, inception, iteration, release, production, dan retirement.

 

Ingin tahu informasi menarik seputar dunia IT lainnya? Kunjungi roketin.com

Other Insights
Share This Story: