Mengenal 5 Jenis Maintenance pada Mobile Apps

Mobile Apps29 Nov 20235 Minutes
maintenance

Maintenance merupakan bagian penting dalam memastikan keamanan, efisiensi, dan tingkat keandalan dari sebuah mobile apps. Singkatnya, agar suatu aplikasi dapat sukses dan digunakan oleh banyak orang, tidak cukup hanya dengan merilisnya langsung di pasaran saja setelah proses pengembangan selesai, melainkan harus dipikirkan dengan matang sejak awal masa pengembangan hingga langkah saat aplikasi tersebut telah dirilis, termasuk pada tahap maintenance.

 

Maintenance yang baik akan membuat sebuah aplikasi mampu eksis di sekitar masyarakat dalam waktu yang lama. Hal ini dapat dilihat dari data mengenai mobile apps yang dihapus dari Google Play maupun Apple Store. Hingga 2023, data dari pixalate menyatakan bahwa 813.000 aplikasi dihapus karena tidak memenuhi kebijakan privasi dan ketentuan aplikasi baik secara desain maupun fungsionalitas akibat maintenance yang tidak memadai.

 

Hal ini tentunya sangat merugikan dalam bisnis karena dapat menyebabkan terjadinya penurunan angka pengguna dan keuntungan yang terbatas. Hal ini pula yang menjadi faktor penguat bahwa suatu mobile apps haruslah mendapatkan maintenance yang pantas secara berkala. Terdapat beberapa keuntungan dari melakukan maintenance pada suatu mobile apps, seperti:

 

  • Menghindari resiko pembangunan ulang aplikasi akibat fungsionalitas yang tidak memadai
  • Meningkatkan standar keamanan dalam aplikasi
  • Menghindari terjadinya error atau computer breakdowns yang dapat mengakibatkan terjadinya kehilangan pendapatan
  • Membuat aplikasi bekerja dengan menyesuaikan pada kebutuhan pengguna tiap saat karena update berkala yang terus dilakukan.

 

 

Proses maintenance sendiri dapat berbeda-beda untuk tiap aplikasi. Setidaknya, terdapat lima jenis maintenance yang lazim ditemukan, yaitu:

 

Corrective maintenance

Corrective mobile application maintenance akan selalu dilakukan selama masa hidup dari suatu aplikasi. Jenis maintenance ini digunakan ketikan terjadi malfungsi produk yang menyebabkan efek negatif pada pengalaman penggunaan. Ia juga jenis maintenance yang digunakan sebagai bentuk respons untuk mengatasi masalah yang terjadi ketika suatu aplikasi telah diluncurkan. Beberapa hal yang dilakukan dalam prosesnya ialah analisis untuk tiap anomali yang terjadi, menngaplikasikan perubahan yang dibutuhkan untuk mengatasi error, dan testing ekstensif untuk memverifikasi masalah yang telah berhasil diatasi.

 

Preventive maintenance

Jenis maintenance ini mencakup semua tindakan yang memastikan maintenance yang lebih mudah secara berkelanjutan melalui pemantauan aplikasi secara aktif. Tentunya, aksi pemantauan ini meliputi monitoring berkelanjutan untuk memastikan tingkat keamanan, stabililitas, dan performa yang lebih baik bagi pengguna, monitoring infrastruktur aplikasi, dan testing otomatis untuk level regresi dari sistem yang digunakan. 

 

Adaptive maintenance

Adaptive mobile application maintenance dapat dilihat sebagai jenis maintenance yang mirip dengan preventive maintenance. Namun, terdapat perbedaan di antara keduanya, di mana adaptive maintenance membutuhkan modifikasi pada sistem dan komponennya. Modifikasi ini sendiri didasari oleh adanya perubahan besar pada ruang lingkup aplikasi. Jenis maintenance ini mengharuskan developer untuk berperan proaktif, di mana hal ini merupakan hal yang bagus untuk menghindari komplikasi masalah teknis yang dapat terjadi di masa depan. Beberapa hal yang biasa terjadi dalam prosesnya adalah pembaruan software yang sesuai pada limit lisensi dan modifikasi yang memastikan kompatibilitas konstan dengan versi baru dari perangkat yang digunakan. Adapun tujuan dari jenis maintenance ini adalah agar aplikasi dapat selalu berguna dengan menyesuaikan pada lingkungan yang terus berubah.

 

Evolutionary maintenance

Evolutionary maintenance juga merupakan salah satu cara untuk mencegah masalah jangka panjang. Developer dapat menambahkan modul tambahan yang meliputi mulai dari restrukturisasi aplikasi, integrasi teknologi baru, atau pengembangan fitur baru agar aplikasi menjadi lebih agile, ergonomis, dan efisien. Dapat dikatakan bahwa maintenance jenis ini merupakan evolusi yang dibutuhkan untuk menghindari beberapa operasi maintenance yang dapat memakan waktu jangka panjang di masa depan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dalam prosesnya sendiri, beberapa hal yang biasa dilakukan berfokus untuk meningkatkan fungsi yang telah ada dalam aplikasi dan mengembangkan fitur yang dapat memenuhi ekspektasi atau kebutuhan baru dari pengguna aplikasi.

 

User Feedback Handling

Sedikit berbeda dengan jenis yang lain, jenis maintenance ini bekerja dengan melibatkan evaluasi dan penanganan feedback yang diberikan oleh pengguna aplikasi. Tentunya, hal ini dapat sangat membantu developer mengingat adanya wawasan tentang masalah yang dirasakan dari perspektif pengguna sehingga perbaikan dan usaha peningkatan pengalaman pengguna menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.

 

Maintenance jenis apapun yang diimplementasikan, pada dasarnya semua memiliki satu tujuan besar yaitu untuk memastikan pengalaman penggunaan yang aman dan optimal kepada para pengguna. Untuk mencapai hal tersebut, maintenance yang baik haruslah bersifat holistik dan memiliki beberapa langkah yang spesifik seperti automasi, dukungan teknis, uji keamanan, dan monitoring. 

 

 

Adapun, agar tidak terjadi kesalahan dalam penentuan jenis maintenance, perlu dipertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

 

  1. Lakukan analisis kebutuhan aplikasi secara mendalam. Identifikasi bug yang perlu diperbaiki, evaluasi kebutuhan fungsional baru, dan selalu pertimbangkan aspek keamanan dan performa.
  2. Tentukan prioritas dari kebutuhan bisnis aplikasi tersebut. Misalkan, ketika aplikasi membutuhkan perbaikan segera setelah dirilis, maka jenis yang tepat untuk digunakan adalah corrective maintenance. Bila terdapat rencana untuk pengembangan aplikasi lebih lanjut, maka pertimbangkan untuk menggunakan evolutionary maintance.
  3. Pertimbangkan lingkungan eksternal yang dapat memengaruhi aplikasi seperti pembaruan sistem atau hardware karena kebutuhan aplikasi akan turut berubah pula.
  4. Ketersediaan budget dan sumber daya harus dipertimbangkan dengan matang mengingat beberapa jenis maintenance mungkin membutuhkan lebih banyak waktu dan biaya dibandingkan yang lain.
  5. Perhatikan siklus hidup aplikasi. Aplikasi yang masih aktif dan memiliki rencana pengembangan mendatang mungkin memerlukan jenis pemeliharaan yang berbeda dibandingkan dengan aplikasi yang akan segera digantikan.

 

Pertimbangan akan faktor-faktor ini dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih tepat dan terinformasi tentang jenis maintenance mana yang paling sesuai untuk sebuah mobile apps. Perlu diingat pula bahwa tidak jarang suatu aplikasi perlu mengombinasikan beberapa jenis maintenance agar aplikasi dapat tetap bekerja dengan performa yang baik dan relevan seiring berjalannya waktu. 

 

Kesimpulan

Maintenance atau pemeiliharaan merupakan bagian yang penting dalam memastikan suatu mobile apps dapat bertahan lama ketika digunakan oleh para pengguna. Maintenance yang benar dapat menghindari dari resiko rebuilding aplikasi akibat fungsionalitas yang tidak memadai, meningkatkan keamanan dan fungsionalitas aplikasi, menghindarkan dari error, dan membuat aplikasi dapat bekerja mengikuti perkembangan zaman. Maintenance sendiri memiliki beragam jenis, namun ada lima jenis yang lazim ditemukan mulai dari corrective, preventive, adaptive, evolutionary, dan user feedback maintenance. Dalam menentukan jenis maintenance yang dibutuhkan juga tidak bisa sembarangan, melainkan memertimbangkan analisis kebutuhan dan prioritas, pertimbangkan kebutuhan eksternal, budget dan sumber daya, dan pertimbangan terhadap siklus hidup aplikasi. Apapun itu, tujuan dari maintenance itu selalu mengarah pada pengalaman penggunaan yang aman dan optimal kepada para pengguna

 

Ingin tahu info menarik seputar dunia IT lainnya? Kunjungi roketin.com

Other Insights
Share This Story: