
Dalam dunia yang semakin terhubung dan canggih, konsumen tidak lagi merasa terpapar oleh iklan generik yang tidak relevan bagi mereka. Personalisasi dalam digital ads merupakan strategi yang kuat untuk meningkatkan interaksi dan keterlibatan konsumen. Konsep ini melibatkan penyajian konten yang disesuaikan dengan preferensi, perilaku, dan karakteristik individu. Personalisasi memungkinkan brand untuk menciptakan pengalaman yang lebih relevan dan berarti, sehingga menciptakan ikatan yang lebih kuat antara brand dan konsumen.
Personalisasi membantu menghilangkan kesan iklan generik yang sering diabaikan konsumen. Melalui pendekatan yang lebih tepat sasaran, brand dapat membangun kesadaran merek yang lebih kuat, mempertahankan konsumen yang ada, dan mendapatkan basis pelanggan yang lebih setia. Dalam era di mana pengalaman konsumen menjadi fokus utama, personalisasi dalam digital ads adalah kunci untuk meraih hasil yang lebih baik dalam pemasaran.

Apabila suatu brand hendak melakukan personalisasi terhadap digital ads yang hendak diluncurkan, maka analisis data mengenai perilaku konsumen menjadi hal yang wajib untuk diperhatikan. Adapun, data yang akan digunakan dapat dikumpulkan dari berbagai sumber mulai dari interaksi terdahulu dengan brand, riwayat pembelian, preferensi pencarian produk, perilaku online, dan data demografis konsumen.
Lewat berbagai sumber data ini, nantinya dapat diketahui mengenai produk apa yang biasa dicari oleh konsumen, waktu interaksi yang terjadi, dan kanal komunikasi yang paling efektif di mana hal-hal tersebut dapat dijadikan landasan dalam merancang kampanye yang relevan bagi target pasar dari brand. Personalisasi juga memberikan peluang untuk mengirimkan penawaran khusus dan konten yang berhubungan langsung dengan kebutuhan konsumen. Dengan memahami karakteristik audiens target, brand dapat memilih kata-kata, gambar, dan elemen iklan lainnya yang paling mempengaruhi mereka.
Namun, dalam mengumpulkan dan menggunakan data, penting untuk memertimbangkan mengenai masalah privasi dan kepatuhan hukum. Data pengguna merupakan hal yang sensitif dalam penggunaannya, sehingga brand harus menghormati privasi konsumen dan data dikumpulkan lewat persetujuan dan etika yang tinggi, serta menjaga keamanan data dengan ketat.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, personalisasi dapat dilakukan berdasarkan sumber data yang dikumpulkan. Oleh karena itu, beberapa jenis yang bisa didapatkan adalah:
Demografi merupakan data yang paling mudah dikumpulkan dari para konsumen karena data mudah dilengkapi dan cenderung tidak mudah berubah. Data ini meliputi usia, jenis kelamin, dan lokasi geografis. Personalisasi yang dapat dilakukan berdasarkan data ini dapat sangat beragam, misalnya iklan yang muncul hanya di lokasi tertentu atau iklan produk yang diminati oleh konsumen dalam rentang usia yang sesuai dengan data demografis konsumen seperti iklan mainan atau buku pelajaran.
Perilaku online konsumen meliputi data seperti preferensi pencarian, interaksi di media sosial, dan jenis konten digital yang diminati. Sebagai contoh, apabila seseorang hobi mencari konten mengenai tips memasak atau kuliner, maka iklan yang dimunculkan pada linimasa orang tersebut akan terkait pada hal-hal seputar itu pula.
Riwayat pembelian dapat memberikan perspektif pula terhadap kecenderungan pembelian konsumen. Contohnya, ketika konsumen baru saja membeli sepatu olahraga, maka bisa jadi di kesempatan berikutnya akan muncul iklan mengenai produk-produk olahraga lain yang terkait dengan sepatu tersebut, seperti kaus kaki atau jersey.
Biasanya, siklus hidup dan perilaku seseorang akan berubah seiring dengan bertambahnya umur. Misalnya, iklan yang direkomendasikan pada orang tua yang memiliki bayi akan berbeda beberapa tahun lagi ketika bayi tersebut sudah memasuki usia sekolah. Bisa jadi, iklan popok yang biasa ditemui ketika anak masih bayi akan berganti dengan buku pelajaran atau seragam sekolah.
Jenis-jenis personalisasi berdasarkan data tersebut dapat diterapkan sehingga jenis kampanye yang dimiliki brand dapat disesuaikan dengan target pasar sesuai data-data tersebut sehingga kampanye iklan digital menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.
Cara menciptakan personalisasi digital ads yang efektif
Menciptakan personalisasi digital ads yang baik memerlukan perencanaan dan eksekusi yang cermat mulai dari awal perancangan kampanye hingga evaluasi setelah kampanye iklan diluncurkan. Berikut adalah langkah-langkah untuk menciptakan personalisasi yang efektif:
Langkah awal dari personalisasi digital ads adalah pengumpulan dan analisis data konsumen. Brand perlu menentukan terlebih dahulu mengenai data yang ingin digunakan untuk kampanye di mana analisis ini akan membantu dalam memahami preferensi dan kebutuhan konsumen. Selanjutnya, data tersebut dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi target audiens yang dituju.
Isi konten dalam iklan dapat mulai dibuat dengan berdasarkan pada data yang telah dianalisis dan target audiens yang telah ditetapkan sebelumnya. Dari hasil analisis tersebut, brand dapat menyesuaikan konten mereka mulai dari kata-kata dalam konten iklan, gambar atau video yang akan digunakan, hingga elemen tambahan lain yang diperlukan dalam kampanye iklan. Semakin jelas hasil analisis yang didapatkan, semakin baik pula bagi pembuat iklan karena ia akan semakin mudah dalam membuat isi konten yang akan diluncurkan.
Salah satu cara mudah dalam menemui target audiens adalah membuat beberapa kampanye iklan sesuai dengan customer journey. Perlu diingat bahwa konsumen tidak berada di tahap yang sama dalam proses pembelian mereka. Ada yang sudah mengetahui produk atau brand tertentu sebelumnya, ada juga yang belum tahu sama sekali. Karena itu, buat beberapa jenis kampanye iklan dan luncurkan sesuai dengan memertimbangan kemungkinan tersebut.
CTA dalam iklan tidak bisa dipasang sembarangan, melainkan harus mempertimbangkan kembali target iklan itu sendiri. Apabila target brand adalah calon konsumen baru, mungkin CTA semacam ‘learn more’ atau ‘download now’ cukup efektif. Namun, bagi konsumen lama, hal ini akan menjadi tidak efektif. Pemberitahuan diskon atau bonus bisa jadi lebih menarik bagi mereka.
Lakukan A/B testing untuk menguji efektivitas berbagai elemen iklan mulai dari isi kalimat dalam iklan, gambar yang digunakan, dan berbagai elemen lainnya. Hasilnya dapat menjadi acuan keberhasilan dari tiap kampanye yang diluncurkan berdasarkan target audiens dan data personalisasi yang telah ada sebelumnya. Nantinya, dapat dilakukan pula retargeting target audiens bila diperlukan, bergantung pada hasil A/B testing tersebut.
Kesimpulan
Personalisasi digital ads dibutuhkan agar iklan yang dibuat oleh suatu brand efektif menemui pengguna dengan efektif. Untuk itu, dibutuhkan pengumpulan dan analisis data yang menjadi landasan dari personalisasi digital ads itu sendiri, di mana data dapat dikumpulkan dari interaksi dan dan perilaku pengguna. Karena itu, terdapat beberapa jenis personalisasi digital ads mulai dari personalisasi berdasarkan data demografis, perilaku, riwayat, hingga siklus hidup konsumen. Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membuat digital ads yang lebih personal, mulai dari pengumpulan dan analisis data, pembuatan konten yang spesifik dan beragam sesuai dengan customer journey, penggunaan CTA yang efektif, hingga pengujian dan evaluasi untuk konten berikutnya.
Ingin tahu info menarik seputar dunia IT lainnya? Kunjungi roketin.com