
Tahukah Anda bahwa sekitar 8% populasi pria dan 0,5% wanita mengalami buta warna? Itu artinya, kemungkinan besar ada pengguna produk digital Anda yang memiliki kondisi ini. Karena itu, ketika merancang tampilan antar muka produk digital, pastikan Anda mempertimbankan keterbatasan kemampuan visual mereka. Dengan begitu, Anda dapat menciptakan desain yang inklusif.
Desain yang inklusif adalah pendekatan yang mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan semua pengguna, termasuk mereka dengan keterbatasan fisik, sensorik, atau kognitif. Dalam konteks buta warna, ini berarti Anda harus memilih palet warna yang dapat dibedakan oleh semua orang, menggunakan teks dan ikon yang jelas, serta menyediakan alternatif visual yang membantu pengguna memahami informasi tanpa mengandalkan warna semata.
Dengan membuat desain yang inklusif, Anda dapat memperluas jangkauan dan meningkatkan kepuasan pengguna. Untuk lebih jelasnya, simak ulasan di bawah ini.

Menurut American Academy of Ophthalmology, buta warna adalah kondisi di mana seseorang tidak dapat melihat warna dengan cara yang biasanya dilakukan oleh orang lain. Kondisi buta warna terbagi menjadi beberapa jenis yang berbeda, yakni sebagai berikut:
Selain itu, menurut Colour Blind Awareness, ada juga kondisi buta warna monokromatik, yaitu kondisi di mana seseorang tidak bisa melihat warna sama sekali. Orang dengan buta warna monokromatik hanya dapat melihat warna hitam, putih, dan berbagai gradasi abu-abu.
Setelah mengetahui apa itu buta warna dan berbagai jenisnya, penting untuk memahami mengapa merancang UI yang ramah buta warna sangat diperlukan. Menurut Adobe 99U, 1 dari 12 laki-laki di dunia mengalami buta warna, dan 1 dari 200 perempuan juga mengalaminya. Data ini menunjukkan bahwa sekitar 8 dari 100 orang yang mengunjungi sebuah situs atau aplikasi adalah penderita buta warna.
Meskipun angka tersebut bukan mayoritas, jumlahnya cukup signifikan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan Anda ketika merancang tampilan antar muka produk digital. Salah satu alasannya adalah agar website atau aplikasi menjadi lebih aksesibel untuk semua orang.Ini karena, desain yang inklusif juga dapat membantu orang-orang yang memiliki keterbatasan visual lain ketika menggunakannya. Contohnya adalah lansia dengan kemampuan visual yang cenderung sudah menurun.
Selain itu, desain yang inklusif juga sering kali lebih fungsional dan efisien. Elemen UI yang dirancang dengan jelas dan mudah diakses bagi penderita buta warna biasanya juga akan memudahkan navigasi dan interaksi bagi semua pengguna. Ini dapat meningkatkan keseluruhan pengalaman pengguna, mengurangi rasa frustasi, dan pada akhirnya meningkatkan loyalitas mereka terhadap produk digital yang digunakan.

Untuk memastikan semua pengguna, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan, dapat dengan mudah membaca konten di website atau aplikasi Anda, kita perlu memperhatikan rasio kontras. Ini seperti membandingkan terang dan gelapnya suatu warna. Semakin besar perbedaannya, semakin mudah mata kita membedakan keduanya.
Standar WCAG (Web Content Accessibility Guidelines) merekomendasikan rasio kontras minimum 4.5:1 untuk teks normal dan 3:1 untuk teks besar. Artinya, perbedaan antara warna teks dan latar belakang harus cukup signifikan agar mudah dibaca. Anda bisa menggunakan alat bantu seperti WebAIM Contrast Checker untuk memeriksa apakah desain Anda sudah memenuhi standar ini.
Lalu, gunakan kombinasi warna terang dan gelap untuk menciptakan kontras yang optimal. Misalnya, teks berwarna hitam pada latar belakang putih atau teks berwarna putih pada latar belakang gelap. Kombinasi ini akan membuat teks Anda lebih menonjol dan mudah dibaca oleh semua pengguna.
Desain yang inklusif tidak boleh hanya mengandalkan warna saja untuk menyampaikan informasi penting. Ini seperti memberikan petunjuk arah hanya dengan warna tanpa kata-kata. Seseorang yang buta warna akan kesulitan mengikuti petunjuk tersebut. Oleh karena itu, Anda bisa menambahkan label atau ikon.
Misalnya saja pada sebuah grafik, Anda bisa menggunakan pola garis atau simbol yang berbeda untuk membedakan setiap kategori data. Selain itu, Anda juga bisa menambahkan teks penjelasan di samping setiap elemen grafik.
Apabila Anda ingin menggunakan warna untuk menunjukkan status tertentu, seperti "aktif" atau "tidak aktif", tambahkan indikator lainnya. Misalnya, selain warna hijau untuk menunjukkan status "aktif", Anda bisa menambahkan garis bawah atau simbol centang. Dengan begitu, pengguna dengan buta warna tetap bisa memahami informasi yang disampaikan.
Standar aksesibilitas web juga menegaskan bahwa teks dalam gambar, seperti pada tombol atau banner, harus memiliki kontras yang cukup dengan latar belakangnya. Ini artinya, perbedaan antara warna teks dan warna latar belakang harus cukup jelas agar mudah dibaca.
Jika teks pada gambar sulit dibaca, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan keterbacaannya. Salah satunya adalah dengan menambahkan overlay warna atau bayangan teks. Ini seperti memberikan sorotan pada tulisan agar lebih menonjol dan mudah dilihat.
Anda tidak hanya perlu memperhatikan kontras pada teks, tetapi juga untuk semua elemen visual lainnya, seperti ikon, tombol, grafik, dan diagram. Ini artinya, setiap elemen yang ada di dalam halaman web atau aplikasi harus mudah dibedakan satu sama lain agar pengguna dapat dengan mudah berinteraksi dengannya.
Berikut hal yang perlu Anda perhatikan terkait elemen non teks:
Ketika merancang desain visual, pemilihan kombinasi warna memegang peranan penting dalam memastikan aksesibilitas bagi semua pengguna, termasuk mereka yang mengalami buta warna. Hindarilah untuk menggunakan kombinasi warna yang cenderung sulit dibedakan oleh penderita buta warna, yakni sebagai berikut:
Demikian penjelasan singkat mengenai UI Design yang ramah buta warna. Untuk mendapatkan informasi menarik lainnya seputar industri IT dan website, Anda bisa langsung mengecek informasi yang ada di @roketincom.