Kurangi Checkout Abandonment di E-commerce Anda dengan Cara-cara Ini!

E-Commerce20 Dec 20236 Minutes
checkout abandonment

E-commerce mengeluarkan banyak biaya dan sumber daya untuk dapat menggaet perhatian pelanggan. Mulai dari desain E-commerce yang menarik, menghadirkan produk berkualitas tinggi, hingga menempatkan iklan di berbagai platform dapat dilakukan demi menjangkau lebih banyak pelanggan. Setelah perhatian tersebut didapatkan, para pelanggan akan mulai mencari barang yang mereka butuh atau inginkan. Namun, di saat terakhir, ketika mereka hanya tinggal melakukan klik pada button pembelian demi menyukseskan transaksi, di saat itulah mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan transaksi tersebut.

 

Suatu pengalaman menyenangkan bagi pemilik E-commerce? Tentu tidak.

 

Sayangnya, hal ini merupakan hal yang sangat wajar terjadi. Berdasarkan riset dari Google, checkout abandonment pernah dilakukan oleh 70% dari pelanggan yang pernah melakukan belanja online. Hal ini tentunya sangat merugikan E-commerce. Potensi kehilangan pendapatan dari kasus ini dapat mencapai milyaran dollar hanya dari Amerika Serikat saja. Adapun, checkout abandonment ini merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat dihindari alias pasti akan dilakukan oleh siapapun, pada jenis industri apapun. 

 

Namun, tentunya persentase peristiwa ini terjadi masih sangat mungkin dikurangi. Tentunya, sebelum mulai membahas caranya, perlu dipahami terlebih dahulu apa saja penyebab dari checkout abandonment ini.

 

 

Alasan mengapa pelanggan tidak melanjutkan transaksi

Walaupun tinggal selangkah lagi, tidak menutup kemungkinan pelanggan membatalkan transaksi. Namun, mengapa hal ini bisa terjadi? 

 

Sangat penting bagi pemilik E-commerce untuk memahami jawaban dari pertanyaan tersebut. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut adalah dengan melakukan riset melalui analisis behavioral dan pembelian dari pelanggan. Pemiliki E-commerce juga dapat menyebarkan kuesioner mengenai tingkat kepuasan layanan kepada pelanggan. Setiap tempat, maka akan berbeda-beda pula jawabannya. Namun, menurut survey yang dilakukan oleh Baymard, terdapat beberapa alasan umum yang menyebabkan hal ini dapat terjadi, seperti:

 

Biaya Tambahan Tidak Terduga

Menurut survey Baymard, penyebab ini memengaruhi tingkat checkout abandonment hingga lebih dari 55%, jauh meninggalkan penyebab lainnya. Berbagai biaya tambahan yang muncul ketika proses checkout sedang berlangsung dapat menyebabkan pelanggan kesal dan memilih untuk membatalkan transaksi. Solusinya, model bisnis dalam E-commerce tersebut harus diubah. Tranparansi dan kejujuran menjadi hal yang penting. Setiap tambahan biaya, seperti ongkos kirim atau asuransi perjalanan, perlu dijelaskan secara terperinci agar pelanggan tidak bingung.

 

Keharusan Membuat Akun atau Melakukan Registrasi

Rupanya, memaksa pelanggan untuk membuat akun E-commerce sebelum bertransaksi cukup sebagai alasan bagi pelanggan untuk meninggalkan transaksi. Walaupun jumlah pelanggan bertambah, tapi hal ini berpotensi mengurangi konversi penjualan dari E-commerce tersebut. Karena itu, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah dengan membuat opsi bagi pelanggan untuk dapat berbelanja dengan status sebagai ‘guest’ dan memungkinkan ia untuk bertransaksi hanya dengan info alamat dan metode pembayaran yang digunakan. Selain itu, follow up e-mail harus disiapkan pula agar tidak terjadi miskomunikasi setelah pembayaran. Di e-mail tersebut, dapat diberikan CTA yang mengajak pelanggan untuk mendaftarkan akun mereka atau membeli barang dari E-commerce kembali.

 

Metode Pembayaran dan Ekspedisi yang Terbatas

Jasa ekspedisi tentunya menjadi hal yang krusial dari transaksi E-commerce. Kurangnya opsi jasa ekspedisi dapat menambah kemungkinan checkout abandonment mengingat banyak pelanggan yang hanya memercayai ekspedisi tertentu. Selain itu, ongkos kirim tiap jasa ekspedisi juga berbeda satu sama lain. Hal serupa juga berlaku bagi metode pembayaran. Lebih banyak tata cara pembayaran semakin baik, mengingat tiap orang memiliki preferensinya masing-masing. Tentunya, dari kedua hal tersebut, E-commerce perlu memilih partner terbaik dan terpercaya agar pelanggan percaya akan kesuksesan transaksi yang mereka lakukan.

 

Proses Checkout yang Rumit dan Panjang

Pelanggan mengharapkan cara berbelanja yang cepat dan efisien dari keberadaan E-commerce. Karena itu, proses checkout yang panjang dan rumit tentu saja menyalahi keinginan pelanggan tersebut dan mengurangi nilai yang ditawarkan oleh E-commerce. Terlalu banyak langkah yang tidak perlu, salah satunya keharusan registrasi di lembar checkout, dapat menjauhkan konversi penjualan. Sebaiknya, proses checkout dapat dilakukan dalam satu laman saja yang mencakup segala hal yang dibutuhkan mulai dari informasi produk, opsi pembayaran dan pengiriman, dan total biaya. 

 

Kekhawatiran atas Sistem Keamanan

Sistem keamanan yang dimaksud pada poin ini meliputi keamanan data, proses pembayaran, dan perlindungan dari resiko penipuan. Apapun jenis datanya, ketika pelanggan memasukkan data pribadi dan keuangan mereka, maka garansi keamanan tentu menjadi hal yang wajib disediakan oleh E-commerce. Pelanggan harus merasa aman terlebih dahulu, sebelum mereka menuntaskan transaksi mereka. 

 

Kurangnya Informasi yang Tersedia

Pelanggan ingin setiap informasi yang mereka butuhkan tersedia hanya dalam sekali lihat. Karena itu, informasi lengkap wajib disediakan entah itu deskripsi produk, harga, hingga info terkait tata cara pembayaran dan garansi. Jangan membuat pelanggan perlu mencari informasi lagi karena hal tersebut merepotkan dan membuat pelanggan tidak ingin melanjutkan transaksi.

 

 

Cara-cara untuk mengurangi checkout abandonment

Seperti yang dibahas di awal artikel, walaupun tidak dapat dihilangkan, namun checkout abandonment dapat dikurangi hingga batas tertentu. Oleh karena itu, pengalaman penggunaan haruslah diutamakan lewat optimasi berbagai aspek yang ada dalam E-commerce. Beberapa cara yang dapat dilakukan di antaranya:

 

Optimasi efisiensi checkout untuk proses transaksi yang lebih mulus

Bila Anda perhatikan, terdapat banyak penyebab checkout abandonment disebabkan oleh kurangnya kepuasan pelanggan ketika menggunakan E-commerce. Karena itu, desain UI dan UX dari E-commerce haruslah menyediakan nilai-nilai seperti kemudahan, simpel, dan kenyamanan saat digunakan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk optimasi ini antara lain:

  • Performa yang cepat, nyaman, dan mudah di saat menggunakan E-commerce, utamanya saat laman checkout. Karena itu, memperpendek proses transaksi juga dapat menjadi hal yang penting untuk diperhatikan
  • Pastikan proses checkout tidak hanya mudah dan cepat, melainkan juga aman dari berbagai resiko penipuan
  • Pandu pelanggan dengan langkah-langkah yang lugas dan tepat sasaran
  • Berikan gambar dan informasi yang sejelas-jelasnya kepada pelanggan

 

Berikan notifikasi untuk mengingatkan atau menyelesaikan transaksi

Untuk memicu perilaku pelanggan, ketika mereka cukup lama menempatkan produk di keranjang tanpa melakukan checkout, pengelola E-commerce dapat memberikan notifikasi atau peringatan bagi mereka untuk melanjutkan transaksi.

 

Kirimkan e-mail tentang checkout yang tertunda

Sedikit mirip dengan notifikasi, e-mail ini dapat mengingatkan pelanggan untuk menyelesaikan proses checkout. Selain itu, pengelola E-commerce juga dapat menambahkan CTA untuk mendaftar, menawarkan produk lain, atau memberikan arahan tentang apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan proses checkout yang tertunda.

 

Berikan promo

Promo merupakan salah satu strategi pemasaran yang paling efektif sejak dulu hingga sekarang. Buatlah pengingat bagi pelanggan akan adanya promo bila mereka melakukan checkout sesegera mungkin, sehingga produk akan dapat segera dibeli dan tingkat checkout abandonment dapat dikurangi.

 

Kesimpulan

Checkout abandonment di E-commerce dilakukan oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Pemilik atau pengelola E-commerce perlu memahami beberapa alasan mengapa hal ini dapat terjadi, yang secara umum dapat diakibatkan oleh adanya biaya tambahan di luar ekspektasi, keharusan registrasi akun, proses checkout yang rumit, metode pembayaran dan ekspedisi yang terbatas, kekhawatiran akan sistem keamanan, hingga kurangnya informasi yang tersedia. Karena itu, optimasi E-commerce dan cara-cara pemasaran seperti mengirim notifikasi, e-mail, hingga memberi promo perlu dilakukan agar pelanggan melakukan pembelian dan tingkat checkout abandonment dapat dikurangi.

 

Ingin tahu info menarik seputar dunia IT lainnya? Kunjungi roketin.com

Other Insights
Share This Story: