
Dunia pengembangan web terus berkembang, dan salah satu tren terbaru yang paling menarik adalah konsep Headless WordPress. Pendekatan inovatif ini mengubah cara Anda membangun web dengan memisahkan bagian front-end dan back-end dari sebuah website.
Dalam implementasi tradisional, WordPress mengelola front-end dan back-end secara bersamaan. Itu artinya, platform akan menampilkan konten dan mengelola database sekaligus. Namun, dengan Headless WordPress, Anda menggunakan WordPress hanya untuk mengelola konten. Tampilan web (front-end) dibuat dengan framework JavaScript modern.
Ada beberapa contoh situs web yang sudah menggunakan metode ini, misalnya saja Spotify, Disney, dan BBC. Untuk mempelajari teorinya lebih lanjut, simak penjelasan dalam artikel di bawah ini.
Apa Itu Headless WordPress?

Sistem Content Management System (CMS) umumnya terbagi menjadi dua bagian: front-end (tampilan) dan back-end (pengelolaan konten). Pada WordPress, back-end terdiri dari panel admin dan tool pengelolaan konten, sedangkan front-end adalah tampilan website yang dilihat pengunjung.
Headless WordPress mengubah cara kerja ini dengan memisahkan bagian "kepala" (front-end) dan "badan" (back-end). Dengan begitu, Anda tetap dapat menggunakan dashboard WordPress untuk mengelola konten, tetapi front-end website dibuat dengan framework JavaScript modern seperti React, Vue.js, atau Svelte.
Bagaimana cara kerjanya? WordPress akan menyediakan konten Anda sebagai data melalui REST API. Lalu, data ini dapat diakses dengan mengirimkan permintaan jaringan ke endpoint API. Anda bebas menyajikan data ini dalam tampilan front-end custom yang dibuat dengan framework JavaScript pilihan Anda.
Desain seperti ini akan sangat menguntungkan karena developer bebas memilih framework JavaScript favorit untuk membangun front-end yang sesuai kebutuhan. Tidak hanya itu, karena front-end dan back-end terpisah, performa web akan meningkat dengan drastis. Risiko keamanan pun berkurang sebab front-end tidak memiliki akses langsung ke database WordPress. Efeknya, web aplikasi yang dibangun dapat meningkatkan pengalaman pengguna.
Cara Membuat Headless WordPress

Membangun front-end terpisah memang cukup rumit, tetapi ada beberapa tools yang bisa Anda manfaatkan untuk mempermudah prosesnya. Misalnya saja menggunakan framework seperti ReactJS. Berikut penjelasannya lebih lanjut:
1. Membuat Headless WordPress dengan Framework
Framework modern seperti ReactJS menawarkan solusi yang lebih efisien dan fleksibel dalam membangun front-end manual. ReactJS adalah library JavaScript populer yang memungkinkan developer membangun front-end yang interaktif dan dinamis.
Library tersebut menyediakan semua yang developer butuhkan untuk mengakses data WordPress melalui REST API, sehingga memungkinkan developer untuk melakukan hal-hal berikut ini:
Berdasarkan poin-poin di atas, terlihat bahwa ReactJS menawarkan sejumlah keuntungan, yakni efisiensi, fleksibilitas, dan skalabilitas. Framework ini menawarkan kontrol penuh pada developer atas desain dan fungsionalitas front-end. Tidak hanya itu, proses membangun front-end pun akan lebih cepat dan mudah sehingga dapat menghemat waktu serta sumber daya. Desainnya pun mudah diubah dan diperluas, ideal untuk website yang masih akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Selain React JS, ada beberapa framework lainnya yang bisa developer pertimbangkan, yakni sebagai berikut:
2. Membuat Headless WordPress dengan Plugin
Opsi selanjutnya adalah membangun Headless WordPress dengan Plugin. Ada beberapa tools yang dapat dipertimbangkankan, contohnya saja WPGraphQL, yakni plugin gratis yang dirancang untuk membantu Anda mengambil data dari Headless WordPress.
Plugin ini dapat mengubah website WordPress menjadi API GraphQL. Dengan memanfaatkan GraphQL, bahasa kueri yang kuat dan fleksibel, developer bisa mengambil data dari WordPress dengan cara yang efisien dan mudah. Plugin ini juga dilengkapi dengan IDE GraphQL terintegrasi, memungkinkan developer untuk menjelajahi skema GraphQL proyek dan menguji kueri dan mutasi dengan lebih mudah.
WPGraphQL dirancang untuk bekerja dengan berbagai framework populer seperti Apollo Client, Next.js, dan Gatsby.js. Jika developer menggunakan Gatsby, plugin source Gatsby untuk WordPress menyediakan integrasi yang mulus dan memungkinkan pembuatan (build) inkremental yang cepat dan pratinjau konten langsung di CMS Anda.
Fitur utamanya yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
Opsi plugin berikutnya adalah Headless WooCommerce dari CoCart yang bisa digunakan secara gratis. Plugin ini ideal untuk Anda yang memiliki toko online di beberapa platform. Anda bisa membuat website di WooCommerce, lalu menggunakan sistem Headless untuk membuat pengguna dapat mengakses keranjang belanja. Ini karena WooCommerce tidak dilengkapi dengan dukungan keranjang belanja melalui REST API secara default. Selain itu, plugin ini dapat membantu pelanggan yang ingin melakukan check out sebagai guest (tidak login akun) serta melakukan fungsi autentikasi dasar.
Risiko Masalah dengan Headless WordPress

Headless WordPress memang akan memberikan keleluasaan tak tertandingi dalam proses desain dan pengembangan web. Namun, di balik fleksibilitas ini, ada sejumlah risiko masalah yang perlu dipertimbangkan oleh developer terlebih dahulu, yakni sebagai berikut:
1. Proses Desain dan Development yang Lebih Kompleks
Membangun area front-end sendiri membutuhkan waktu dan keahlian teknis. Developer harus menguasai coding dan memahami berbagai framework JavaScript modern. Lalu, meskipun tool dan framework WordPress tersedia, membangun front-end secara manual prosesnya jauh lebih rumit daripada menggunakan tema dan plugin bawaan.
2. Kebutuhan Maintenance yang Lebih Tinggi
Website dengan konsep Headless WordPress membutuhkan maintenance berkelanjutan. Setiap perubahan, baik konten maupun desain, harus diterapkan secara manual, tanpa kemudahan drag-and-drop atau plugin. Otomatis hal ini akan menyita banyak waktu dan tenaga.
3. Kehilangan Akses ke Tema dan Plugin
Masalah berikutnya yang harus developer hadapi adalah sistem headless tidak mendukung tema dan plugin WordPress. Karena itu jika ingin menambahkan fitur baru atau melakukan perubahan desain, developer harus melakukan penulisan kode secara manual.
4. Ketiadaan Editor WYSIWYG dan Preview Langsung
Terakhir, Headless WordPress tidak menyediakan editor WYSIWYG atau opsi preview langsung.
Editor WYSIWYG memungkinkan pengguna untuk melihat dan mengedit konten website secara visual, tanpa perlu menulis kode HTML. Sementara opsi preview langsung akan memberikan gambaran bagaimana tampilan konten website di front-end sebelum dipublikasikan. Tanpa adanya kedua hal ini, tentu developer akan kesulitan memvisualisasikan tampilan konten.
Itu dia ulasan mendalam mengenai Headless WordPress dan cara mengimplementasikannya untuk website. Untuk info-info menarik lainnya seputar industri IT, astronaut bisa langsung cek saja di @roketinapp.