
Rebranding bukanlah hal yang baru dalam dunia bisnis. Berbagai brand telah melakukan hal ini, bahkan hingga beberapa kali sejak mereka didirikan. Ambil Apple sebagai contoh, di mana mereka telah melakukan perubahan logo sebanyak lima kali. Tentunya, perubahan ini diikuti pula dengan penyesuaian mulai dari jenis produk, target pasar, hingga visi misi yang ingin mereka bawakan sebagai latar belakang dari rebranding itu sendiri.
Rebranding tentunya memiliki beberapa resiko terhadap brand itu sendiri seperti adanya kemungkinan brand awareness yang menurun atau kritik karena kualitas rebrand yang dianggap tidak lebih baik dari branding yang telah ada sebelumnya. Namun, hal tersebut tidak membuat banyak perusahaan takut untuk melakukan rebranding. Bahkan, Forbes menyebut bahwa banyaknya perusahaan yang melakukan rebranding sepanjang tahun 2022 akan membentuk sebuah tren rebranding baru di tahun 2023 ini.

Rebranding adalah suatu strategi marketing yang memungkinkan suatu brand atau perusahaan untuk tampil baru di muka publik dengan perubahan mendasar pada identitas mereka seperti nama, logo, desain, atau slogan yang merepresentasikan ide, visi misi, atau nilai baru yang dibawa oleh brand.
Terdapat berbagai alasan bagi suatu brand hingga memilih untuk melakukan rebranding sekalipun ia merupakan suatu proses yang rumit, beresiko tinggi, dan membutuhkan biaya yang besar. Karena itulah, alasan dari rebranding sendiri biasanya merupakan suatu hal yang serius dan memiliki pengaruh besar terhadap arah perusahaan di masa depan. Berikut ini beberapa alasan utama yang dapat menjadi dasar untuk melakukan rebranding:
Repositioning atau pemosisian ulang ini akan berkaitan erat dengan status produk suatu brand di pasaran. Biasanya, hal ini dilakukan ketika brand berada di posisi yang lemah pada pasar, sehingga mereka ingin menemukan target audience dan pasar baru dengan menerapkan strategi pemasaran yang berbeda secara menyeluruh.
Brand atau perusahaan bisa saja memiliki perubahan pada visi, misi, atau nilai yang ingin dibawakan pada masyarakat. Rebranding mulai dari logo, brand voice, atau visual identity merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengomunikasikan filosofi baru tersebut pada masyarakat.
Bukannya mustahil ketika image suatu brand atau perusahaan turun drastic di mata masyarakat. Hal ini bisa terjadi ketika brand atau perusahaan tersandung skandal atau melakukan blunder yang menyebabkan tingkat kepercayaan masyarakat menurun. Rebranding dapat menjanjikan suatu perubahan positif yang dapat menaikkan kembali kepercayaan publik.
Hal ini berlaku ketika dua perusahaan melakukan merger, sehingga keduanya berada pada satu pengelolaan bisnis yang sama. Tentunya, hal ini akan menimbulkan perubahan pada nilai-nilai yang ingin dibawa oleh kedua perusahaan. Karena itu, rebranding dapat menjadi satu pilihan yang merefleksikan identitas perusahaan, sekaligus menghindarkan masyarakat dari kebingungan sembari mendapatkan kepercayaan mereka.
Pemimpin merupakan wajah dari suatu brand atau perusahaan. Keberadaannya mencerminkan identitas dan arah perusahaan di masa depan. Karena itu, bukannya mustahil ketika pergantian pemimpin turut memengaruhi adanya rebranding.
Salah satu alasan rebranding adalah kebosanan atas logo atau slogan. Selain itu, alasan lainnya juga dapat berupa brand awareness publik yang tidak sesuai ekspektasi sehingga perusahaan ingin menarik perhatian masyarakat dengan rebranding. Walaupun sah saja untuk dilakukan, namun kedua alasan ini sebaiknya tidak dijadikan dasar untuk melakukan rebranding karena efeknya hanya akan bertahan pada jangka pendek. Kasus terburuknya, atensi yang masih sedikit tersebut justru akan hilang dan berdampak langsung pada pemasaran dan penjualan produk.
Tentunya, sebelum memutuskan untuk rebranding, perlu diketahui terlebih perubahan seperti apa yang akan dilakukan. Terdapat dua tipe dalam rebranding, yaitu:
Partial rebranding dilakukan ketika tidak ada perubahan yang dilakukan secara menyeluruh, melainkan hanya dengan menambahkan suatu unsur baru pada identitas brand. Salah satu contohnya adalah Apple atau Adidas yang merilis beberapa logo baru setiap beberapa tahun agar brand mereka tidak terlihat ketinggalan zaman.

Total rebranding adalah perubahan identitas brand secara menyeluruh yang dilakukan dengan alasan seperti merger atau adanya perubahan pada filosofi atau spesifikasi produk dari perusahaan. Salah satu contohnya adalah Facebook yang mengubah nama induk perusahaan menjadi Meta atau Goto sebagai rumah bagi Gojek dan Tokopedia.

Setelah mengetahui tipe dari rebranding yang akan dilakukan, brand atau perusahaan dapat melakukan rebranding. Adapun, berikut ini adalah beberapa cara atau tahapan yang dapat dilakukan ketika melakukan rebranding:
Kunci dari bisnis adalah dengan mengenali pasar dan orang-orang yang berada di dalamnya. Karena itu, sebelum memulai rebranding, lakukan riset kembali mengenai target audience dan pasar dari brand Anda. Buat pendalaman menggunakan metode focus group dan analisis data yang dihasilkan, baik itu perilaku pelanggan maupun pergerakan dari kompetitor. Setelah itu, periksa kembali hasil riset dengan target yang Anda tuju. Nantinya, sesuaikan hasil yang Anda dapat dengan strategi yang akan Anda terapkan setelah melakukan rebranding.
Setiap perusahaan memiliki visi, misi, dan nilai dalam perusahaan, di mana ketiganya memiliki peran penting yang menentukan arah dan etika bisnis perusahaan. Evaluasi kembali ketiga hal tersebut karena mereka turut menentukan cara komunikasi antara perusahaan dengan audience yang telah ditentukan sebelumnya mulai dari bahasa, nada, dan visual yang ditampilkan.
Setelah melihat visi, misi, dan nilai perusahaan, maka Anda mungkin perlu mempertimbangkan untuk menamai ulang mulai dari produk bahkan hingga nama perusahaan Anda. Tentunya ini merupakan langkah yang beresiko karena brand recognition perusahaan dapat menurun. Namun, apabila Anda merasa nama tersebut lebih cocok untuk visi dan misi perusahaan serta dapat mengomunikasikan pesan perusahaan dengan lebih baik, maka tidak ada salahnya untuk mencoba hal tersebut.
Slogan yang baik adalah yang dapat mengampanyekan visi, misi, nilai, dan pesan yang ingin dibawa secara singkat namun melekat. Karena itu, slogan merupakan hal yang penting untuk direvisi saat melakukan rebranding. Selalu ingat bahwa slogan yang baik harus tetap pendek dan simpel, namun tetap mampu menyampaikan pesan secara jelas. Selain itu, ia juga harus mengandung nilai unik dan mempertimbangkan audience dan pasar.
Perubahan pada identitas brand merupakan perubahan yang paling kentara di mata masyarakat. Perubahan ini dapat meliputi logo, warna, dan shape. Mirip seperti slogan, akan lebih baik apabila identitas brand dapat dikenali dan pesan dari perusahaan dapat dikomunikasikan hanya dengan sekali lihat. Forbes bahkan menyebutkan bahwa impresi pertama masyarakat terhadap perusahaan, tercipta hanya tujuh detik setelah pertama kali melihat suatu logo. Karena itu, buat logo yang menonjol dan menunjukkan identitas perusahaan di saat bersamaan.
Kesimpulan
Rebranding diprediksi akan menjadi sebuah tren bagi banyak perusahaan di seluruh dunia pada tahun 2023 ini. Rebranding sendiri dapat dimaknai sebagai suatu strategi marketing yang memungkinkan suatu brand atau perusahaan untuk tampil baru di muka publik dengan perubahan mendasar pada identitas mereka. Terdapat dua tipe pada rebranding yaitu partial rebranding atau perubahan sebagian dan total rebranding atau perubahan secara menyeluruh. Adapun, untuk melakukan rebranding, suatu perusahaan dapat mulai dari melakukan riset pasar, mengevaluasi visi, misi, dan nilai perusahaan, mempertimbangkan nama perusahaan, merevisi slogan, dan membangun identitas brand kembali.
Ingin tahu info menarik seputar dunia IT lainnya? Kunjungi roketin.com