
Halo astronaut, dalam artikel ini kita akan membahas tentang brand equity dan pengaruhnya bagi bisnis kita. Sebelumnya,s apakah kalian semua menyadari bahwa saat ini persaingan bisnis menjadi semakin ketat dari hari ke harinya? Berdasarkan data dari BPS sendiri menunjukkan bahwa saat ini terdapat 64,2 juta orang pemilik UMKM. Situasi pandemi pun juga turut andil dalam membuat UMKM di Indonesia semakin banyak. Banyak korban PHK yang kemudian memiliki inisiatif dan keberanian untuk memulai bisnis sendiri.
Jika kita sudah memutuskan untuk mulai membangun bisnis, maka kita harus memperhatikan banyak aspek lainnya yang terkait bisnis. Aspek di sini dapat berupa strategi pemasaran, riset target pasar, pencarian modal, hingga proyeksi atau prediksi keuntungan maupun kerugian. Semakin matang kita dalam merencanakan aspek-aspek ini, maka semakin baik besar pula peluang kita untuk sukses berbisnis. Di saat kita melihat aspek terkait keuntungan dan kerugian, maka tentunya hal yang juga harus menjadi target adalah keuntungan. Di mana jika kita bicara keuntungan, maka kita juga akan bicara tentang uang yang mampu kita dapatkan dari bisnis kita. Kita perlu memikirkan seberapa besar potensi bisnis kita hingga mampu memiliki ekuitas merek atau brand equity.
Brand equity dapat kita pahami bersama sebagai seperangkat nilai tambah yang melekat pada suatu produk atau jasa suatu brand. Nilai-nilai tambah ini berangkat dari bagaimana para pelanggan berpikir, berpendapat, dan bertindak mengenai brand produk atau jasa tersebut. Hal ini membuat nilai-nilai ini menjadi faktor yang mampu memengaruhi intensi pelanggan dalam melakukan pembelian. Jika brand equity kita kuat dan jelas, maka peluang kita untuk mendapatkan pelanggan yang paham dan loyak terhadap brand kita pun akan semakin besar. Hal ini dapat terjadi karena brand kita sudah memiliki kesan yang tertanam dalam benak para pelanggan.

unsplash.com
David Aaker, seorang ahli pemasaran dari Amerika Serikat, telah menyederhanakan proses untuk membangun brand equity ke dalam lima dimensi berikut ini.
Brand awareness (kesadaran brand) adalah dimensi di mana para pelanggan mampu mengenali, memahami, serta teringat atas brand kita. Para pelanggan akan beranggapan bahwa brand kita telah memilki profil serta produk atau jasa yang cukup jelas. Bahkan pada level brand awareness yang cukup baik, para pelanggan tidak memerlukan petunjuk apa pun untuk menyadari keberadaan brand kita.
Brand association (asosiasi brand) ini adalah dimensi yang fokus pada memori atau cara pelanggan mengingat brand kita, dengan pembahasan yang lebih dalam dari dimensi sebelumnya yaitu brand awareness. Pada dimensi ini, kita perlu membentuk pola pikir para pelanggan secara organik agar memiliki kesan yang positif terhadap brand kita. Di mana pola pikir ini akhirnya mampu membuat para pelanggan memiliki alasan-alasan mereka sendiri untuk akhirnya membeli produk atau jasa dari brand kita.
Perceived quality adalah proses di saat para pelanggan mulai merespon kegiatan-kegiatan yang brand kita lakukan. Kegiatan di sini dapat berupa kegiatan promosi maupun penjualan. Pada dimensi ini, pelanggan mulai juga dapat memberikan penilaian, pendapat, atau respon apapun atas kualitas dan keunggulan brand kita. Di sisi lain, kegiatan membandingkan brand kita dengan brand lainnya pun juga mulai terjadi pada dimensi perceived quality.
Brand loyalty (loyalitas brand) merupakan dimensi di mana pelanggan mulai memiliki suatu komitmen terhadap suatu brand. Para pelanggan akan membeli produk atau jasa dari brand kita dengan cukup konsisten. Arrtinya secara berkala pelanggan juga aktif menggunakannya. Tentunya hal ini terjadi karena pada dimenssi sebelumnya para pelanggan telah memiliki alasan atau argumen yang cukup kuat untuk akhirnya cukup setia terhadap brand kita. Jika pelanggan memang sudah merasa cocok dengan produk atau jasa kita, maka di lain waktu pun mereka juga akan membelinya lagi. Nilai tambah pada proses ini adalah ketika pelanggan yang sudah nyaman dengan senang hati merekomendasikan brand kita kepada orang lain.
Brand asset (aset brand) merupakan perangkat simbol-simbol seperti logo atau lambang dari brand kita. Sifatnya tentu saja visual atau dapat terlihat oleh publik. Tentunya visual yang menjadi brand asset harus memiliki kesan yang positif di mata para pelanggan. Selain itu simbol yang bagus adalah simbol yang dapat menjadi pembeda brand kita dengan brand lainnya. Sehingga hanya dengan melihat simbol itu, pelanggan langsung mampu membedakannya dengan brand yang lain. Bahkan pelanggan tidak perlu melakukan pencarian terlebih dahulu terkait simbol tersebut. Dalam membangun brand equity, kita perlu menyiapkan seperangkat brand asset yang secara visual tepat untuk mencerminkan brand kita.

unsplash.com
Perlu kita pahami bersama bahwa brand equity itu lebih dari sekedar kegiatan pemasaran. Walaupun tentu saja keduanya memang memiliki hubungan yang cukup erat dan saling ketergantungan. Pemasaran sendiri dapat kita artikan sebagai strategi yang brand kita lakukan untuk mendapatkan sekian keuntungan dalam jangka waktu yang relatif pendek. Sementara brand equity merupakan konsep sekaligus strategi bisnis dengan tujuan keuntungan dalam jangka waktu yang relatif panjang, seperti munculnya para pelanggan yang loyal terhadap bisnis kita.
Brand equity adalah aset yang sangat penting dan tentunya memiliki efek yang cukup fundamental sekaligus signifikan dalam bisnis. Semakin baik para pelanggan merespon apa yang kita lakukan, maka semakin besar juga prospek kita dalam meningkatkan keuntungan. Tidak berhenti di sana, bisnis kita pun akan selalu memiliki daya tarik di antara para pesaing bisnis kita yang lainnya. Di mana dalam bisnis di era digital saat ini, persaingan bisnis menjadi semakin ketat dari hari ke harinya.
Satu hal lagi yang tentunya tidak boleh kita lewatkan adalah kesadaran bahwa brand equity akan memudahkan kita dalam mencari pelanggan baru. Bahkan tidak hanya sampai pada level pencarian, kita pun juga akan mendapatkan para pelanggan baru. Tanpa perlu pikir panjang dan membandingkan dengan bisnis pesaing, orrang-orang akan memilih untuk menggunakan produk atau jasa dari bisnis kita.

unsplash.com
Tidak ada satu formula yang pasti dalam bisnis untuk kita membangun brand equity. Semuanya sangat bersifat situasional dan memerlukan daya kreativitas kita sebagai pebisnis. Namun, setidaknya empat pola pikir berikut ini dapat kita jadikan sebagai panduan sederhana yang akan membantu kita dalam membangunnya. Pola pikir tersebut adalah:
Dengan membaca seluruh penjelasan di atas, kita semakin sadar betapa pentingnya brand equity bagi perkembangan suatu bisnis. Brand equity adalah aset yang akan membawa banyak dampak positif bagi kita dalam jangka panjang. Semakin kuat dan tepat kita dalam membangunnya, semakin besar juga pengaruh bisnis kita di dalam persaingan pasar yang semakin ketat dari hari ke hari. Semoga bisnis astronaut semua dapat memiliki brand equity yang baik. Untuk info menarik lainnya terkait bisnis dan perkembangan industri IT, astronaut juga bisa langsung akses di @roketinapp.