
Tahukah Anda kalau ada beberapa metode yang dapat kita pakai dalam setiap proyek pengembangan software? Metode ini kita gunakan dalam rangka untuk membantu para developer bekerja dengan lebih efektif dan efisien. Di mana dua metode yang cukup populer saat ini adalah metode waterfall dan agile. Kedua metode ini tentunya memiliki poin-poin keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Lalu bagaimana sebenarnya implementasi metode waterfall dan agile dalam proses pengembangan suatu software? Artikel satu ini akan mengupas kedua metode ini untuk Anda.

unsplash.com
Metode agile merupakan suatu metode pengembangan dengan proses yang bertahap, berkelanjutan, serta sistematis. Istilah yang biasanya muncul untuk mencerminkan prosesnya adalah iterasi. Di mana setiap iterasi dalam metode ini biasanya berlangsung sekitar 1-4 minggu. Namun durasi waktu tersebut tidaklah bersifat absolut. Proses iterasi dapat memiliki waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan proses pengembangan yang kita kerjakan.
Iterasi dalam metode agile memiliki fokus dalam mengembangkan software dengan cepat dan tentunya juga relevan dengan kondisi di pasar. Prosesnya pun juga adaptif terhadap kebutuhan dan melibatkan partisipasi seluruh anggota tim. Contohnya Ketika kita sedang memiliki project berupa pembuatan peta digital. Lalu muncul fenomena pandemi yang memunculkan kebutuhan informasi terkait persebaran virus pada berbagai daerah. Metode agile akan mengakomodir kebutuhan ini dengan membuat peta persebaran virus yang informasi yang terkini dan jelas.

www.atlassian.com
Metode agile memiliki beberapa keunggulan yang dapat membantu kita pada proses pengembangan software. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:
Metode ini akan mengakomodir perubahan yang bersifat rutin selama perubahan tersebut memang kita butuhkan. Biasanya kita akan melakukan perubahan setelah mendapatkan testimoni atau masukan dari klien atau pengguna. Perubahan dapat kita lakukan dalam setiap proses iterasinya.
Kecepatan dalam beradaptasi dan melakukan pembaruan memberikan dampak langsung pada kualitas software yang menjadi lebih baik. Fitur-fitur yang memang perlu kita tambahkan lebih cepat tersedia dan bug atau error yang muncul dalam software lebih cepat teratasi. Hal ini tentunya akan membawa dampak positif bagi tim developer maupun klien.
Klien dan para pengguna akan merasa senang ketika software saat mereka menggunakan software yang berkualitas. Di mana tentunya software tersebut akan selalu mampu menjawab kebutuhan dan keinginan mereka. Masukan yang cepat kita respon dan implementasikan pun juga dapat membuat mereka merasa puas. Metode agile membuat mereka merasa bahwa masukan mereka telah kita hargai.
Iterasi rutin metode agile yang memiliki fokus agar proses pengembangan memiliki tahapan yang jelas membuat estimasi waktu pengerjaan mampu kita prediksi. Di mana estimasi ini akan membuat resiko bisnis dari project yang kita kerjakan menurun.
Metode ini memiliki tujuan untuk menciptakan software yang memang tepat dan relevan dengan kebutuhan penggunanya. Dengan fokus pada kebutuhan, proses pengembangan mampu kita kerjakan dengan lebih cepat. Di mana kita tidak akan menghabiskan waktu untuk mengembangkan fitur-fitur yang belum tentu para pengguna butuhkan.
Berikut ini adalah kekurangan-kekurangan yang dapat kita temukan dalam metode agile:
Metode agile menuntut agar semua anggota tim mampu bekerja sama secara rutin. Hal ini bertujuan agar software yang dikerjakan semakin relevan dengan kebutuhan pengguna. Komitmen yang tinggi dari setiap anggota tim adalah hal wajib, di mana tentunya hal ini akan menguras banyak energi dan waktu.
Dokumentasi pada metode ini kita buat dalam waktu yang relatif singkat dan tidak terlalu lengkap. Hal ini akan memunculkan resiko miskomunikasi ketika ada anggota baru di dalam tim. Kemungkinan dia akan kesulitan untuk memahami dokumentasi karena memang kurang lengkap.
Perencanaan yang cukup singkat dan menuntut kecepatan dalam merespon kebutuhan justru membuat target hasil akhir produk menjadi kurang jelas. Pembaruan fitur yang sering terjadi pun juga membuat target akhir produk semakin sulit untuk kita tentukan.

unsplash.com
Metode ini memungkinkan kita untuk melakukan proses pengembangan software secara sistematis. Waterfall memiliki struktur yang jelas dan absolut. Metode ini juga memiliki nama waterfall karena sistem penngembangannya yang bertahap. Tahapan tersebut memilputi requirement, design, implementation, verification, dan terakhir adalah maintenance. Di mana aturannya adalah kita tidak boleh lanjut ke tahap berikutnya apabila tahap sebelumnya belum selesai kita kerjakan. Hal ini menjadi berlaku karena setiap tahapan memiliki keterkaitan dan pengaruh yang kuat. Selain itu, masing-masing tahapan perlu kita kerjakan secara detail dan harus kita dokumentasikan dengan baik.

jobsandnewstoday.blogspot.com
Berikut ini adalah beberapa keunggulan dari metode waterfall:
Proses pengembangannya yang lebih sistematis dan memiliki tahapan-tahapan membuat alur kerja metode ini jelas dan terstruktur. Seluruh anggota di dalam tim pun memiliki peran dan tugas masing-masing yang tentunya relevan dengan keahlian dan bidangnya.
Sifat metode waterfall yang terstuktur membuat beragam informasi terkait dokumentasi tercatat dengan detail. Distribusi informasi pun juga dapat berjalan dengan semakin baik dan seluruh tim mampu memahami detail perkembangan yang sedang terjadi dalam tim.
Pada metode waterfall ini, klien tidak akan terlibat banyak pada proses pengembangan software. Hal ini tentunya merupakan perbedaan yang cukup signifikan dari metode agile. Di mana pada metode tersebut klien mampu memberikan masukan terkait kebutuhan fitur baru kepada tim developer. Hal ini membuat anggaran implementasi metode waterfall lebih hemat dari metode agile.
Metode waterfall ini cocok untuk kita gunakan pada project dengan skala besar. Di sisi lain, tentunya metode ini juga bisa kita gunakan untuk project berskala kecil. Kita dapat menyesuaikan metode waterfall ini dengan situasi dan kondisi setiap project yang kita kerjakan.
Berikut ini adalah kekurangan-kekurangan dari metode waterfall:
Metode waterfall menuntut setiap individu di dalam tim agar mampu bekerja sama dengan sangat baik. Koordinasi antar anggota tim memiliki pengaruh langsung terhadap alur kerja tim secara keseluruhan.
Pada metode waterfall, pengguna tidak memiliki akses untuk melihat gambaran sistem pengembangan dengan jelas. Hal ini tentunya berbeda dengan metode agile yang memungkinkan pengguna untuk melihat proses pengembangan sistem yang sedang terjadi.
Aturan untuk menjalankan metode ini secara sistematis dan bertahap membuat proses pengembangan di dalamnya perlu waktu yang lebih lama. Terlebih lagi kita tidak bisa bergerak ke tahap berikutnya apabila pekerjaan pada tahap sebelumnya belum betul-betul aman.
Metode waterfall menentukan seluruh proses alur kerja pada fase awal project. Di mana seluruh anggota tim wajib menjalankan perannya sesuai dengan alur kerja yang telah ditentukan di awal. Tingkat fleksibilitas kerja dalam metode ini pun semakin berkurang karena sifatnya yang memang sistematis.
Seluruh penjelasan di atas membuat kita sadar bahwa metode agile dan waterfall sama-sama memiliki kelemahan dan keunggulannya masing-masing. Hal ini tentunya dapat menjadi pertimbangan bagi tim developer dalam mengadopsi salah satu di antara kedua metode ini dalam suatu project. Semuanya lagi-lagi berangkat dari situasi dan kondisi project terkait. Jangan lupa juga untuk senantiasa mempertimbangkan kebutuhan klien, pengguna, dan setiap anggota tim developer. Untuk informasi lainnya seputar industri IT, Anda bisa langsung mendapatkannya di @roketinapp.