Agile Sebagai Salah Satu Metode Pengembangan Terbaik

Lifestyle13 Jun 20227 Minutes
agile

Merancang software dengan baik tentunya bukanlah sebuah hal yang mudah. Hal ini tetap merupakan hal yang kompleks, bahkan sejak pertama kali teknologi komputer ada hingga sekarang muncul metode pengembangan software bernama agile. Kita dapat mengumpamakan software sebagai sebuah jembatan yang proses pembangunannya cukup rumit. Di mana selalu ada aspek biaya dan waktu yang menjadi variabel dalam proses pembangunannya. Hal yang kemudian menjadi ciri khas dari proses pengembangan software adalah sifatnya yang terus berkelanjutan. Tentunya hal ini berkaitan langsung dengan tuntutan software agar selalu relevan dari waktu ke waktu, baik dari sisi fitur, fungsi, hingga tampilannya. 

 

Masih terkait dengan perumpamaan jembatan tadi, di mana tentunya jembatan tersebut dapat mengalami kerusakan akibat suatu bencana atau karena usianya yang sudah tua. Kerusakan ini tentunya akan memengaruhi fungsi dan kapasitas jembatan tersebut. Selain itu tentunya perlu waktu untuk memperbaiki jembatan hingga betul-betul dapat kembali berfungsi seperti semula. Catatan pentingnya adalah bahwa jika kita ingin semakin cepat waktu penyelesaiannya, maka juga akan semakin banyak pula biaya dan usaha yang perlu kita keluarkan.

 

Analogi kerusakan dan perbaikan jembatan ini pun juga relevan dengan realita pengembangan software. Di mana proses pengembangan yang memang berkelanjutan memiliki arti bahwa proses perancangan software bukan semata-mata menambahkan fitur. Tetapi kita juga meningkatkan aspek lainnya, seperti misalnya keamanan data dalam software. Di mana software menjadi lebih aman untuk kita gunakan. Jika memang ada gangguan keamanan pun, kita dapat lebih cepat dalam memperbaikinya. Biaya perbaikan pun dapat menjadi lebih hemat.

Metode agile merupakan metode yang mamup beradaptasi dan mengakomodasi beragam perubahan mendadak di tengah-tengah proses pengembangan.

unsplash.com

 

Momentum Dalam Pengembangan Software

 

Waktu perbaikan pun juga dapat semakin cepat dan kita tidak akan kehilangan momentum. Pengembangan software sangat bergantung kepada momentum, karena relevansi software adalah hal yang sangat penting. Sebagai contohnya adalah mobile app e-commerce dari perusahaan yang menjual produk B2C. Di mana momentum lebaran merupakan peristiwa yang tidak boleh dilewatkan begitu saja oleh perusahaan dengan produk B2C, khususnya di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Jika di masa tersebut terdapat gangguan pada mobile app e-commerce, maka bisa saja perusahaan kehilangan momen untuk meningkatkan penjualan dari orang-orang yang berbelanja di masa lebaran.

Di sinilah kemudian metode agile mengambil peran untuk membantu kita dalam menjalani proses pengembangan software. Tidak hanya mengutamakan pada kecepatan saja, agile juga akan membuat software kita dapat meluncur di waktu yang tepat.

 

Memahami Relasi Antara MVP Dan Agile

 

Proses pengembangan software berbasis agile terjadi ketika minimum viable product (MVP) bersinggungan dengan praktik dari lean business. Di mana kalau kita melihat makna visi dari MVP sendiri, kita paham bahwa produk digital yang kita kembangkan bukanlah versi terakhir dan terbaik. Melainkan hanya sampai pada versi yang fitur dan fungsi dasarnya sudah aktif, dapat kita gunakan. Di mana dengan penerapan metode agile, fitur dan fungsi dasar ini pun juga sudah dapat memberikan nilai-nilai tambah yang akan membuat orang-orang yakin untuk menggunakan produk kita nanti.

Proses pengembangan software pun dapat berjalan dengan menjadikan feedback dari orang-orang yang telah mencoba produk kita sebagai dasar evaluasinya. Fungsi apa saja yang perlu pengembangan lebih lanjut, fitur yang perlu kita tambahkan atau hilangkan, dan beragam aspek lainnya. Hasilnya adalah pengalaman pengguna dalam menggunakan produk kita akan terus menjadi semakin nyaman seiring dengan proses pengembangan yang juga terus berlangsung.

Contoh sederhananya adalah dalam proses pembuatan MVP dari laman blog sebuah website. Mungkin di minggu pertama proses pengembangan, laman blog sudah jadi. Di minggu kedua, kita menambahkan search bar pada laman blog itu. Lalu di minggu ketiga, kita menambahkan filter dan kategori dari blog-blog yang ada. Hingga kemudian pada minggu keempat, kita menambahkan fitur berlangganan artikel blog dengan melakukan registrasi email pada laman itu.

Hanya dalam hitungan minggu, metode agile akan mampu memberikan nilai tambah pada software yang kita kembangkan. Nilai tambah ini tentunya akan menjadi daya tarik lebih untuk para pengguna menggunakan software yang kita buat. Tidak hanya fokus pada fitur yang ada, tetapi juga fokus pada nilai dan pengalaman yang hadir dalam software kita. Hal inilah yang membuat metode agile sangat identik dengan aspek user story. Di mana user story ini kita lekatkan pada software yang kita buat, termasuk pada versi MVP dari software tersebut.

Metode agile merupakan metode yang mamup beradaptasi dan mengakomodasi beragam perubahan mendadak di tengah-tengah proses pengembangan.

unsplash.com

 

Memahami Urgensi User Story

 

User story adalah hal esensial sekaligus fundamental dari cara kita memperlakukan sebuah software berdasarkan sudut pandang dari para pengguna. Di mana user story sejatinya tidak harus bersifat sangat teknis. User story dapat kita bangun secara organik sebagai panduan tim pengembang dalam merancang sebuah software. Strategi yang kita terapkan dalam proses perancangan perlu berlandaskan pada cita-cita untuk merealisasikan user story. Di mana kita dapat mengevaluasi perkembangan prosesnya dengan sprint.

 

Mengenal Sprint Dalam Metode Agile

 

Sprint yang kita bahas di sini bukanlah sebuah proses programming maupun coding. Yang kita bahas adalah sprint sebagai salah satu istilah dalam agile yang merujuk kepada waktu yang kita perlukan dalam membangun suatu fitur pada software kita. Di mana biasanya satu kali sprint akan berlangsung selama dua sampai tiga minggu. Tentunya waktu ini dapat bersifat relatif sesuai dengan kompleksitas fitur yang sedang kita kerjakan.

Dalam sprint terdapat aturan di mana jika sebuah user story tidak dapat kita selesaikan dalam satu sprint, maka kita akan menyebut user story itu sebagai epic. Di mana epic merupakan user story yang memerlukan beberapa kali sprint untuk menyelesaikannya. Tantangannya kemudian adalah untuk tetap menjaga kualitas atau nilai user story dari MVP agar tetap relevan dengan penggunanya nanti ketika selesai.

 

Agile Yang Tidak Dapat Kita Remehkan

 

Dalam manifesto agile, terdapat pemahaman bahwa software yang mampu berjalan dengan baik lebih penting daripada dokumentasi yang komplit. Walaupun begitu, tentunya bukan berarti kita bisa mengabaikan pentingnya dokumentasi yang komprehensif selama proses pengembangan yang kita lakukan. Di mana para programmer yang memang ahli dan profesional tentu sadar betul pentingnya dokumentasi dalam sebuah proses pengembangan software. Hingga akhirnya metode agile benar-benar terwujud di saat metode waterfall sedang menjadi tren dalam industri software.

Dalam metode waterfall, dokumentasi dan perencanaan pengembangan software terjadi sebelum proses coding kita lakukan. Setiap tahapan kita selesaikan satu per satu hingga akhirnya software yang menjadi produk kita betul-betul selesai, baik dari sisi fitur hingga fungsinya. Proses ini memerlukan waktu yang cukup banyak sampai akhirnya pengguna dapat mencoba produk kita. Hal ini tentunya memiliki risiko di mana bisa saja terjadi perubahan kondisi dan tren di masyarakat yang menuntut proses pengembangan yang kita kerjakan menjadi responsif dan adaptif. Sayangnya metode waterfall kurang fleksibel dalam mengakomodasi tantangan ini.

Di sisi lain, metode agile dapat menjadi jawaban yang tepat karena mampu mengakomodasi perubahan di tengah-tengah proses pengembangan. Tidak melulu berfokus pada aspek teknologi, metode agile juga memberikan perhatian lebih kepada fenomena yang terjadi di masyarakat maupun pasar. Hal ini menunjukkan bahwa kenyamanan pengguna adalah hal yang juga esensial dalam metode agile. Usaha adaptasi yang konsisten dan teliti dalam mengerjakan setiap detail software adalah kunci untuk betul-betul menerapkan metode agile di dalam tim.

Metode agile merupakan metode yang mamup beradaptasi dan mengakomodasi beragam perubahan mendadak di tengah-tengah proses pengembangan.

unsplash.com

 

Kesimpulan

 

Di dalam mengadopsi metode agile dalam proses pengembangan, tentunya akan tetap ada hal positif dan negatifnya. Meskipun begitu, hal-hal baik yang metode ini tawarkan rasanya dapat menutupi risiko-risiko yang mungkin terjadi dan akan merepotkan dalam proses pengembangan sebuah software. Tentunya hal ini pun juga akan kembali lagi pada kebutuhan kita selama mengembangkan software. Jika bisnis Anda sedang membutuhkan bantuan terkait pembuatan software, maka tim berbasis agile dari Roketin dapat menjadi solusi yang tepat untuk Anda. Kami siap menghadirkan layanan terbaik untuk mewujudkan tranformasi digital pada bisnis Anda. Info menarik lainnya seputar kami dapat langsung Anda lihat di @roketinapp.

Other Insights
Share This Story: