
Website yang lambat tidak hanya akan memberikan pengalaman buruk untuk pengguna, tetapi juga berefek negatif pada penilaian SEO. Pasalnya, Google, melalui Core Web Vitals, menekankan pentingnya kecepatan website sebagai salah satu metrik utama dalam menentukan peringkat website di mesin pencari.
Artinya, website dengan performance yang lambat akan mendapatkan peringkat yang lebih rendah di halaman hasil pencarian (SERP). Hal ini tentu merugikan karena dapat berakibat pada berkurangnya jumlah pengunjung website. Apabila dibiarkan, efeknya akan negatif pada bisnis dan citra brand.
Karena itu, penting untuk memahami apa penyebab website lambat agar Anda dapat segera mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya. Berikut beberapa hal yang dapat mempengaruhi performa website:
1. Performa Server yang Buruk

Browser pengguna akan mengirimkan ping ke server ketika ada seseorang yang mengklik situs web. Ini menandakan bahwa browser meminta semua informasi dan data yang diperlukan untuk memuat situs web. Sebagai gambaran, ini seperti kunci mobil yang digunakan untuk menyalakan mesin.
Nah, apabila server tidak memiliki performa yang baik, maka waktu yang dibutuhkan untuk merespon akan semakin lama. Performa server ini biasanya dipengaruhi oleh kualitas web hosting.
Penyedia web hosting yang lebih murah umumnya menawarkan server bersama. Artinya, satu server digunakan oleh banyak situs web sekaligus, karena itu proses loading-nya lama karena muncul antrean di server. Sebagai solusi, ada baiknya Anda mempertimbangkan untuk menggunakan layanan web hosting yang lain.
2. Lokasi Server yang Jauh
Mirip dengan panggilan telepon jarak jauh yang membutuhkan waktu lebih lama untuk tersambung, website juga terpengaruh oleh lokasi server. Informasi yang diperlukan untuk memuat halaman web harus melakukan perjalanan dari browser pengguna ke server dan kembali lagi. Oleh sebab itu, semakin jauh jarak antara pengguna dan server, semakin lambat website tersebut.
Sebagai contoh, bayangkan pengguna di Indonesia mengakses website yang servernya berada di Jerman. Browser harus mengirimkan permintaan untuk memuat halaman web tersebut ke Jerman, kemudian menunggu tanggapan yang harus melewati jarak yang jauh. Hal ini tentu akan berdampak pada kecepatan website.
Oleh sebab itu, sebisa mungkin gunakanlah server lokal. Artinya, pengunjung Indonesia sebaiknya mengakses website yang di-hosting di server Indonesia, begitupun dengan pengunjung dari negara lain. Dengan menggunakan server lokal, jarak yang ditempuh oleh data menjadi lebih pendek sehingga website dapat dimuat dengan lebih cepat.
3. Lalu Lintas yang Tinggi
Server web memiliki batasan jumlah pengunjung yang dapat ditangani dalam waktu bersamaan. Ketika melebihi batas tersebut, halaman web akan menjadi lambat. Sebagai contoh, semakin tinggi lalu lintas (pengunjung) pada portal e-commerce, maka akan semakin lambat pula website tersebut memproses data.
Oleh sebab itu, jika pengunjung website bertambah banyak, Anda perlu meningkatkan kapasitas server web. Ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya saja dengan upgrade hardware server seperti CPU, RAM, dan storage agar dapat menangani beban trafik yang lebih tinggi.
Opsi lainnya adalah menggunakan CDN (Content Delivery Network). Ini akan membantu mendistribusikan konten website Anda ke server-server yang tersebar di berbagai lokasi di dunia. Dengan begitu, beban loading halaman untuk pengunjung yang berada jauh dari server utama akan berkurang.
4. Tidak Menggunakan CDN (Content Delivery Network)
Seperti dijelaskan sebelumnya, CDN adalah jaringan terdistribusi dari server independen yang berlokasi di beberapa tempat geografis. Fungsinya untuk menyajikan konten website kepada pengunjung dengan ketersediaan, visibilitas, dan performa yang lebih baik.
CDN akan mengalokasikan server lokal ke sebuah website. Ini berarti CDN memberikan server AS untuk pengunjung AS dan server Denmark untuk pengunjung Denmark. Dengan pengaturan seperti ini, sistem dapat meminimalkan waktu pulang-pergi (RTT) konten web dan memuat halaman web dalam waktu yang jauh lebih cepat.
5. CMS yang Digunakan Tidak Update
Sistem Manajemen Konten (CMS) berfungsi untuk membuat, mengelola, dan mengubah konten digital. CMS sering digunakan untuk manajemen konten web dan perusahaan. Saat menggunakan CMS seperti WordPress atau Wix untuk mengelola situs web, pastikan CMS tersebut telah terinstal dengan pembaruan perangkat lunak terbaru dan plugin optimasi kecepatan.
Langkah-langkah di atas penting untuk memastikan perangkat lunak bebas dari bug atau masalah, terutama yang berkaitan dengan kecepatan. Sebagai catatan, biasanya akan muncul pesan pop-up yang meminta Anda untuk memasang versi terbaru dari CMS. Anda hanya perlu memberi izin untuk instalasi agar CMS dapat berjalan dengan optimal.
6. Terlalu Banyak Memasang Ads
Memasang Ads merupakan salah satu cara terbaik untuk memonetisasi situs web dengan trafik yang tinggi. Namun, keberadaannya dapat mempengaruhi performa website. Semakin banyak Ads yang dipasang, maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan server untuk memproses data. Ini karena akan semakin banyak permintaan HTTP yang masuk.
Tidak hanya itu, jika website terlalu banyak memasang Ads, tampilannya pun akan terganggu. Iklan-iklan tersebut akan muncul dalam bentuk pop-up dan banner yang mengganggu navigasi pengguna. Efeknya, pengguna akan merasa tidak nyaman dan enggan untuk kembali ke situs web yang Anda kembangkan.
Oleh karena itu, penting bagi pemilik website untuk mempertimbangkan dengan cermat jumlah dan jenis Ads yang akan dipasang. Sebaiknya pilihlah Ads yang relevan dengan konten website dan tidak terlalu mengganggu pengguna.
7. Teknik Caching Tidak Ideal
Caching adalah teknik di mana browser menyimpan data yang sering digunakan dalam memori cache-nya. Ini berarti bahwa pada kunjungan berikutnya ke situs web, browser tidak perlu memuat semua data lagi. Dengan pengambilan data yang lebih cepat, ini mempercepat waktu pemuatan.
Tanpa caching, situs web harus memuat semua file setiap saat. Hal ini sangat tidak diperlukan dan berisiko menghambat pengalaman pengguna. Sebagai solusi, implementasikan caching browser/HTTP serta caching sisi server. Ini dapat secara signifikan meningkatkan kinerja situs web dalam hal kecepatan.
8. Query yang Tidak Dioptimalkan
Penyebab website lambat berikutnya adalah query yang tidak dioptimalkan. Query yang kompleks akan memakan waktu lama untuk dieksekusi oleh database, sehingga waktu respons halaman pun akan berlangsung lebih lambat.
Tidak hanya itu, apabila query tidak efisien, ini dapat membebani server web. Ini karena adanya penggunaan sumber daya yang tidak perlu, seperti pemrosesan data yang berlebihan atau akses database yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Pada akhirnya, performa query ini akan berdampak pada pengalaman pengguna. Pengguna yang mengalami waktu respons yang lambat atau server yang mogok kemungkinan besar akan meninggalkan situs web Anda dan tidak kembali lagi.
Oleh sebab itu, oastikan query Anda ditulis dengan benar dan seefisien mungkin. Gunakan alat analisis query untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah performa sedari dini untuk menghindari masalah di masa depan.
Untuk mempelajari informasi menarik lainnya seputar industri IT dan website, Anda bisa langsung mengeceknya di @roketincom.