
Aplikasi mobile telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir semua orang menggunakan aplikasi mobile untuk berbagai keperluan, mulai dari berkomunikasi, berbelanja, hingga mencari hiburan. Sayangnya, tidak semua aplikasi mobile memiliki tingkat usability yang baik.
Usability mengacu pada kemudahan penggunaan suatu aplikasi. Sebuah aplikasi dengan usability yang baik akan mudah dipelajari, digunakan, dan dipahami oleh pengguna. Sementara aplikasi yang memiliki usability rendah akan membuat pengguna kesulitan dalam menggunakannya dan sangat mungkin untuk meninggalkannya.
Oleh karena itu, penting bagi para pengembang aplikasi untuk memperhatikan aspek usability dalam proses pengembangan aplikasi mereka. Untuk memahaminya lebih lanjut, berikut beberapa masalah usability penting dalam pengembangan aplikasi mobile yang harus diwaspadai developer.

1. Platform dan Sistem Operasi (OS) Perangkat yang Berbeda
Android dan iOS merupakan platform yang berbeda dengan cara pengembangan yang berbeda pula. Karena itu menyalin desain aplikasi iOS ke Android atau sebaliknya tidaklah ideal. Contohnya, tombol "kembali" pada Android dan iOS memiliki fungsi yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk membuat aplikasi yang mengikuti alur alami platformnya agar pengguna dapat berinteraksi secara intuitif.
Selain itu, penting untuk mempertimbangkan karakteristik dari setiap OS yang berbeda. Ini untuk membantu pengguna beradaptasi dengan aplikasi lebih cepat dan mencegah ketidaksesuaian dalam UX.
Pertimbangkan juga resolusi layar yang berbeda pada setiap jenis perangkat mobile. Konten yang sama mungkin terlihat bagus di satu perangkat dan tidak optimal di perangkat lain, meskipun menggunakan merek perangkat dan versi OS yang sama.
2. Mode Landscape Tidak Dipertimbangkan
Pengguna dapat menggunakan ponsel mereka dalam dua orientasi, yakni portrait (tegak) dan landscape (mendatar). Portrait umumnya digunakan saat bepergian dengan satu tangan, sedangkan landscape digunakan ketika pengguna diam dan memegang ponsel dengan dua tangan.
Sayangnya, beberapa pengembang aplikasi mobile mengabaikan mode landscape dan menganggapnya tidak penting. Padahal, untuk menghadirkan usability dan UX yang optimal, penting untuk mempertimbangkan kedua mode ini, terutama bagi aplikasi yang menampilkan konten video.
3. Terlalu Banyak Langkah dalam Aplikasi
Siapapun tidak ingin repot dengan proses yang berbelit-belit, termasuk dalam menggunakan aplikasi. Ini karena setiap langkah yang harus dilakukan pengguna merupakan rintangan untuk mencapai tujuan mereka. Jika terlalu rumit, tentu pengguna malah akan merasa frustasi sebelum berhasil menggunakan aplikasi.
Oleh karena itu, penting untuk menyederhanakan alur kerja agar pengguna dapat mencapai tujuan mereka dengan mudah dan efisien. Alur kerja yang sederhana dan intuitif akan meningkatkan user experience (UX) dan membuat pengguna lebih senang menggunakan aplikasi.
4. Tata Letak Informasi Tidak Ideal
Pengguna menginginkan informasi yang mudah diakses dan tidak tersembunyi di balik gulungan layar yang tidak ada habisnya. Karen itu prioritas utama dalam desain aplikasi adalah menampilkan informasi penting di awal agar dapat meminimalisir kebutuhan untuk scrolling tanpa henti.
Opsi lainnya, bagi konten menjadi beberapa halaman dengan ukuran yang wajar. Pendekatan ini membantu pengguna mencerna informasi secara bertahap dan menghindari kebingungan. Tidak hanya itu, selama mempelajarinya pun pengguna tidak perlu repot scrolling.
5. Navigasi Aplikasi Buruk
Sekedar memiliki fitur-fitur menarik dalam aplikasi tidaklah cukup. Navigasi aplikasi juga harus dirancang dengan baik agar tidak membingungkan. Pengguna harus dapat memahami cara menavigasi aplikasi dengan mudah dan menyelesaikan tujuan mereka dengan cepat, baik untuk bermain game, berbelanja, ataupun mengecek informasi.
Oleh karena itu, susun menu dan konten aplikasi dengan struktur yang logis dan mudah dipahami serta gunakan pola navigasi yang konsisten di seluruh aplikasi. Sertakan juga label yang singkat dan jelas untuk tombol, menu, maupun ikon dan tambahkan fitur pencarian.
6. Hilangnya Fitur Auto-Filled User Data
Salah satu fitur yang dapat meningkatkan usability aplikasi adalah fitur isi otomatis (auto-fill) data pengguna. Ini memungkinkan pengguna untuk menyelesaikan proses input data dengan lebih cepat dan mudah, tanpa harus mengetikkan seluruh informasi secara manual. Tidak hanya menghemat waktu, fitur ini dapat membantu mengurangi risiko kesalahan input.
Sayangnya, masih banyak aplikasi yang tidak menyediakan fitur Auto-Filled User Data, sehingga pengguna dipaksa untuk menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengetikkan seluruh data mereka setiap membutuhkannya.
7. Proses Onboarding yang Tidak Menarik
Menurut laman Zesium, 20% pengguna meninggalkan sebuah aplikasi setelah sekali memakainya. Ini terjadi karena proses onboarding yang tidak menarik atau cendereung terlalu rumit untuk mereka. Padahal, fase onboarding sangatlah penting untuk memancing ketertarikan pengguna baru.
Sebagai catatan, onboarding merupakan proses perkenalan pengguna dengan aplikasi. Proses ini harus dirancang dengan tujuan untuk membantu pengguna memahami nilai aplikasi, mempelajari cara menggunakan fitur-fitur utama, dan merasakan pengalaman yang positif. Dengan begitu, mereka akan tertarik untuk terus menggunakannya.
8. Konten yang Tidak Jelas dan Membingungkan
Konten yang dirancang dengan baik merupakan kunci untuk menghadirkan pengalaman pengguna (UX) yang optimal pada aplikasi mobile. Namun, banyak developer yang masih mengabaikan pentingnya optimasi konten untuk platform mobile.
Salah satu kesalahan umum adalah menyalin dan menempel konten website langsung ke aplikasi, tanpa memperhatikan perbedaan platform dan kebutuhan pengguna. Layar mobile yang jauh lebih kecil daripada layar komputer akan membuat konten website yang panjang dan penuh teks sulit untuk dibaca dan dipahami.
9. Aplikasi Tidak Responsif
Bayangkan Anda menekan tombol dalam aplikasi, namun tidak ada respon sama sekali. Kekecewaan dan kebingungan pasti menyelimuti Anda. Situasi ini sering terjadi pada aplikasi yang memiliki navigasi yang tidak responsif atau gestur yang tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, pengguna merasa frustrasi karena tidak dapat menyelesaikan tujuan mereka dengan mudah.
Padahal, interaksi yang responsif merupakan kunci untuk menghadirkan pengalaman pengguna (UX) yang optimal. Sebagai catatan, interaksi yang responsif bukan hanya tentang membuat aplikasi yang terlihat bagus. Ini tentang memahami bagaimana pengguna berinteraksi dengan aplikasi dan merancang pengalaman yang mudah, intuitif, dan menyenangkan.
10. Tidak Ada Ruang untuk Pengguna Memberikan Feed Back
Keberhasilan sebuah aplikasi tidak hanya diukur dari fitur-fitur yang ditawarkan, tetapi juga dari pengalaman pengguna (UX) yang optimal. Karena itu salah satu faktor kunci dalam menghadirkan UX yang baik adalah dengan memahami kebutuhan dan preferensi pengguna. Nah, untuk mendapatkan pemahaman tersebut, developer harus menganalisa feed back yang diberikan oleh pengguna.
Salah satu cara untuk memahami preferensi pengguna adalah melalui A/B testing. Dengan metode ini, developer dapat membandingkan dua versi berbeda dari elemen aplikasi, seperti layout atau desain tombol. Ini akan membantu developer menemukan versi yang lebih efektif dalam mendorong konversi (tindakan yang diinginkan) dan meningkatkan retensi (penggunaan aplikasi dalam jangka panjang).
Sayangnya, banyak developer yang mengabaikan hal ini. Mereka tidak memberi ruang untuk pengguna memberikan umpan balik. Akibatnya, para developer kerap terjebak dalam asumsi dan desain yang tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Untuk mencari informasi menarik seputar dunia IT lainnya, kunjungi roketin.com.